Rabu, 13 November 2013

10 wasiat hasan albana




 
1- Jika terdengar azan,maka segeralah bangun untuk menunaikan solat berjemaah walau bagaimana sekalipun keadaan seseorang itu.
2- Perbanyakkan bacaan al-Quran,selalu membuka kitab2 untuk menambah ilmu, pergi ke majlis2 Ilmu, perbanyakkan zikrullah dan jangan membuang masa dalam perkara yang tidak mendatangkan faedah.
3- Berusaha untuk bertutur dalam bahasa Arab yang Fushah kerana Bahasa Arab yang betul (Fushah) adalah lambang(syiar) Islam.
4- Janganlah bertengkar walau dalam apa jua keadaan sekalipun kerana pertengkaran yang kosong tidak mendatangkan apa-apa faedah.
5- Janganlah terlalu banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah sentiasa sahaja akan tenteram dan tenang.
6- Janganlah terlalu banyak bergurau kerana orang islam yang sedang berjuang itu tidak mengerti erti bergurau melainkan bersungguh2 dalam setiap perkara.
7- Janganlah bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh pendengar kerana percakapan yang nyaring itu adalah suatu perbuatan yang sia-sia malah menyakiti hati orang.
8- Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa- apa yang memberi kebajikan.
9- Berkenal-kenalanlah dengan setiap Muslim yang ditemui kerana asas gerakan dakwah ialah berkenal-kenalan dan berkasih-sayang.
10- Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu gunakanlah masa dengan sebaik-baiknya dan ringkaskanlah perlaksanaannya.

Selasa, 12 November 2013

Di Balik Makna Asyhaduan Laa Ilaha Illallah Wa Asyhaduanna Muhammadur Rosulullah


       

       Berapa kali dalam sehari kita berikrar Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah? Minimal 9 kali pada setiap tahhiyat sholat wajib kita. Akan berlebih ketika kita melakukan sholat sunnahnya. Lalu apa kita sudah memahami makna dari apa yang kita ucapkan?
         Dalam sebuah riwayat Rosulullah pernah mengumpulkan keluarganya dari Bani Hasyim. Ketika semua telah berkumpul maka Rosulullah menanyakan " Maukah Kalian Aku tunjukan satu kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai Jazirah Arab?" Kemudian Abu Jahal dengan lantang menjawab, "Jangankan satu, seratus pun aku mau." Lalu Rosulullah mengatakan, " Ucapkanlah  Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah."
      Apa yang disampaikan Rosulullah tentu benar adanya. Kita tidak akan mengingkari karena beliaulah orang paling jujur hingga memperoleh gelaran Al Amiin dari kalangan kaum Qurays.  Namun kenapa sampai sekarang umat islam sudah berjumlah milyaran tapi Islam belum menguasai dunia. Bahkan jazirah Arabpun belum dikuasai apalagi dunia??
     Ada makna-makna di balik kalimat tauhid ini yang belum kita fahami. Kita hanya sebatas mengucapkannya melalui lisan kita tapi kita tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. 

Laa Ilaha Illallah,
         Kalimat ini diawali dengan kata Laa yang merupakan peniadaan. Kalimat larangan yang diawali dengan peniadaan maka menunjukkan bahwa larangan ini bukanlah larangan biasa. Larangan yang benar-benar ditekankan untuk tidak menyembah selain kepada Allah. Ini pulalah yang kemudian ditegaskanNya dalam Quran Surat An Nisa : 48

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

         Peringatan inilah yang harus kita waspadai. Kesyirikan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Baik kesyirikan Uluhiyah maupun kesyirikan Asma' wa Sifat. Seseorang yang telah berikrar atau bersumpah bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah memiliki konsekuensi yang besar atas apa yang dia ucapkan. Dia tidak boleh menjadikan Ilah-Ilah yang lain sebagai sesembahannya, baik itu hartanya, suami/istrinya, anaknya, jabatannya, pangkatnya/kedudukannya, ataupun kecintaan lainnya. Tidak ada yang boleh menyamai kedudukan Allah dalam hal menuhankannya.
         Kalau pun kita setiap hari sudah bersyahadat tapi kecintaan kita pada dunia (wanita, harta, tahta dan anak-anak) masih lebih besar dari kecintaan kita padaNya maka tentu ada yang harus kita introspeksi.
         Sejatinya semua yang Allah berikan hanyalah sarana kita untuk menghamba padanya. Semua hanya titipan dari Allah. Jadi layakkah barang titipan itu lebih kita cintai dari pemiliknya? Tentu tidak. Orang-orang yang bisa memahami makna ini tentu tidak akan susah hidupnya. Karena hanya kepadaNya ia bergantung. Apapun yang terjadi pada dirinya tentu semua ketentuan Allah dan hanya kepadaNya semua urusan dikembalikan.

Asyhaduanna  Muhammadur Rosulullah
         "Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Jadi selain bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah maka kita juga bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. So.. ini merupakan ungkapan janji kita bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Lagi-lagi ini juga bukan sekedar janji belaka, tapi disini pun mengandung konsekuensi sebagaimana Laa ilaha illallah tadi menuntut konsekuensi maka demikian pula dengan kesaksian yang ke dua. Kalimat ini memberikan kosekuensi agar kita mengikuti apa yang diajarkan Rosulullah SAW, baik apa yang beliau katakan, lakukan maupun yang beliau iyakan atau beliau tidak iyakan. Wah kok bahasanya rumit ya..
       Contoh mudahnya begini, misalnya berdusta, ini tidak ada dalam tuntunan beliau kecuali berbohong yang dianjurkan untuk kebaikan, jadi kalau sudah bersyahadat mestinya kita bisa menjaga diri dari kata-kata dusta. Contoh lainnya misalnya berzina, selain Allah memang memerintahkan untuk menjauhinya di  Qur’an surat Al Isra’ ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk.”, maka Rosulullah pembawa risalahpun sangat mewanti-wanti kita untuk menjauhinya. Mendekat saja tidak boleh apalagi melakukannya. Nah itu dua contoh simpelnya yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sebagai konsekuensi dari syahadat kita kepada Allah. Jadi Rosulullah mestinya menjadi qudwah alias teladan dalam menjalani hidup.

Arti Penting Kalimat Syahadat

1. Pintu Masuk Ke Dalam Islam
Ibarat bangunan, maka untuk masuk dalam bangunan Islam haruslah melalui pintu yaitu syahadat. Tanpa mengucapkan syahadatain maka amal yang dikerjakan seseorang itu bagaikan debu yang beterbangan.atau fatamorgana yang terlihat tapi tidak ada. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahaadatain. Syahaadatain menjadi pembeda manusia kepada muslim dan kafir.
Secara fitrahnya manusia adalah Islam. Mereka telah bersyahadat dalam masa penciptaan. Hal ini diterangkan dalam QS. 7:172. ketika masih di alam arwah sesungguhnya setiap kita telah diambil janji oleh Allah "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) ". Manusia telah bersyahadah Rubbubiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahaadah Risalah di dunia. Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah SWT. Ini perlu disempurnakan di dunia dengan membaca syahaadatain sesuai ajaran Islam.


2. Intisari ajaran Islam.
QS. 51:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.
Yang menjadi inti dari ajaran Islam sesungguhnya adalah kalimat Tauhid, pengesaan terhadapAllah. 
Inilah yang terkandung dalam Kalimat Syahadat. Bahwa Allah haruslah menjadi satu-satunya Ilah yang berhak disembah, tidak ada selainNya. Ajaran ini menjadi inti dari setiap risalah yang dibawa oleh setiap nabi dari Adam sampai Muhammad SAW.

3. Dasar-dasar perubahan menyeluruh. 
Seseorang yang telah berikrar Laa ilaha illallah maka menjadi tonggak 

4. Hakikat dakwah para rasul.
Tidak ada satu nabipun yang tidak mengajarkan pada umatnya untuk menyeru kepada selain Allah, 
tidak Ibrahim, Musa, Sulaiman, pun juga Isa. Semua nabi menyeru agar kita hanya menyembah
kepada Allah saja. 

5. Keutamaan yang besar.


Selasa, 29 Oktober 2013

DARINYA KAMI BELAJAR

           


Manna adalah kota ketiga yang kami singgahi setelah Mataram dan Sidoarjo. Kota ini berada di pinggir pesisir selatan Sumatera, cukup kecil jika dibandingkan dengan dua kota yang kami tinggali sebelumnya. 
Mataram, ketika kami datang untuk pertama kalinya belumlah seramai sekarang. Jalanan masih sedikit sepi namun bluebird taxi sudah menjadi moda tranportasi yang lumrah disana. Mungkin karena keindahan alamnya sehingga saat itu mataram sudah menjadi tujuan wisata kedua setelah Bali. Turis mancanegara menjadi pemandangan biasa di sekitar kawasan wisatanya. Senggigi adalah salah satu obyek wisata yang menawarkan pesona alam dengan pantai pasir putihnya dan lokasi yang paling dekat untuk dijangkau dari kota Mataram. Alamnya masih asri dan indah, penduduknya pun cukup ramah. Ada cidomo(cikar-dokar-mobil) yang menjadi transportasi tradisional yang beroperasi dengan kuda sebagai motor penggeraknya. Kantor-kantor pemerintahan memiliki desain eksterior yang hampir sama. Bentuknya mengadopsi bentuk rumah adat suku sasak. Perkampungan suku sasak asli pun masih bisa dijumpai di lereng rinjani. Ada situs adat yang masih asli yang boleh dikunjungi di daerah senaru. Ini adalah pengalaman yang mengagumkan, yang terkadang menggelitik hati untuk menyinggahinya kembali. Terlebih disinilah saya dipertemukan dengan orang yang kini menjadi ayah dari anak-anak saya.
     Sementara Sidoarjo, kota ini cukup besar karena menjadi kota satelitnya Surabaya. Ibarat Jakarta, maka Sidoarjo adalah botabek-nya Surabaya. Budaya blak-blakan alias terbuka menjadikan kami belajar keterbukaan dari kota ini. Orang Sidoarjo-Surabaya hampir memiliki kemiripan karakter. Terbuka, biasa dan apa adanya. Berbeda dengan karakter saya yang sedikit tertutup karena terbiasa memakai budaya Jawa-Jogja yang penuh unggah-ungguh dan sedikit feodal. Dari sinilah saya belajar banyak, saya belajar memahami karakter dan memahami perbedaan. Kota ini jugalah yang mewarnai perjalanan hidup kami . Di kota ini dua buah hati kami terlahir sebagai arek sidoarjo. Kota yang memberi kesan tersendiri di hati saya karena saya hampir menyinggahinya selama delapan tahun dan terpisah dengan suami karena dia harus mutasi sementara saya baru menginjak semester ke-3 tugas belajar. Di kota ini juga saya belajar untuk hidup mandiri terpisah jauh dari suami selama tiga tahun lamanya. Rupanya beginilah rasanya nyonya-nyonya ditjen perbendaharaan yang hidupnya tidak selalu bersama suami. Setelah delapan tahun menikmatinya, saya dan anak-anak pun harus kembali pada kewajiban. Mengikuti kembali ke kota tempat tugas suami sekaligus kembali lagi kepada ditjen perbendaharaan yang telah bertahun-tahun saya tinggalkan. Ya, kami harus berangkat ke Manna.
            Manna, kota yang dulu saya jadikan bahan olokan ketika salah seorang adik kelas yang magang di Sidoarjo memperoleh penempatan kesana. "Penempatan di Manna atau dimana, dik?" Rupanya saya pun harus berangkat ke kota ini. Ya, kota yang kecil dan sederhana. Kecil karena kalau kita memutarinya mungkin tidak sampai setengah jam sudah kembali ke posisi semula. Sederhana, karena di kota ini kita bisa belajar hidup sederhana, tanpa keramaian mall atau keramaian kota pada umumnya. Namun begitu kota ini memiliki berbagai keunikan.
Kota ini penduduk aslinya adalah suku serawai dan pesisir. Namun suku padang dan jawa pun banyak yang merantau ke kota ini. Demikian juga suku pasemah dari Sumatera Selatan. Disini juga banyak persatuan-persatuan suku salah satunya yang tergolong besar adalah PJB yaitu Persatuan Jawa Bengkulu. Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Bahasa Serawai. Sebagaian kata-katanya ada sedikit kemiripan dengan bahasa Indonesia namun untuk a menjadi au, seperti kata kota dalam bahasa serawai disebut kutau. Anak saya yang semula sangat mahir bahasa suroboyoan, tak lama setelah masuk ke kota ini sudah memiliki banyak kosa kata serawai. Anak-anak memang mengagumkan. Sepertinya bukan suatu kesalahan ketika kami doktrin mereka bahwa "kalian anak seribu pulau". Karena kami harapkan mereka menjadi anak-anak bermental pejuang yang siap mengiringi kemana orangtuanya dipindahtugaskan. Jadi tidak ada rengekan dan tidak ada tangisan ketika mall yang biasanya bisa dijangkau dalam hitungan menit kini hanya hutan yang bisa dijangkau dalam hitungan menit. 
            Selain menawarkan wisata alam pantainya yaitu pantai Pasar Bawah, Muara Kedurang juga pantai-pantai di selatan Manna yang berpasir putih, Manna juga menawarkan beberapa peninggalan sejarah seperti bunker-bunker Jepang dan Meriam Honisuit peninggalan Inggris. 
       Sama seperti kota-kota sebelumnya yang memberi kenangan, sebagaimana semboyannya Manna Kota Kenangan, kota ini pun memiliki arti khusus bagi kami. Disini kami memiliki banyak Saudara yang dipertemukan dalam jalinan ukhuwah. Disini juga Tuhan memberikan kembali limpahan rizqinya dengan lahirnya puteri kami yang ketiga. Si kecil yang lahir di kota kenangan.  
Tahun ini memasuki tahun keenam suami bertugas disini. Kami pun harus siap-siap berkemas lagi. Entah ke kota mana lagi akan kami bawa bahtera ini. 
Berpindah dari satu kota ke kota lain sejatinya mengajari kami untuk menjadi laksana air. Memiliki fleksibilitas sesuai wadah yang melingkupinya.  Ini adalah salah satu hikmah yang bisa kami petik sebagai seorang insan perbendaharaan. Kami lebih melihat tuntutan tugas untuk terus berotasi dari satu daerah ke daerah lain ini dari sisi positifnya. Dengan memandang permasalahan dari sisi positif akan membuat kita bisa terus bersyukur. Pun ketika kontrakan habis ini akan membawa kita untuk 'dzikrul maut' atau mengingat mati. Bahwa kita hidup pun menjalani kontrak, ada waktunya untuk habis masanya. Bedanya ketika rumah kontrakan habis masa maka kita bisa memperpanjang namun tidak demikian dengan usia kita. Tidak ada masa perpanjangan. Karenanya hidup kita harus berarti, di belahan bumi mana pun itu. Tidak ada lagi waktu untuk meratapi nasib, yang ada adalah menapaki setiap jengkal dan setiap hela nafas yang masih diberikanNya. 
            Mungkin ini menjadi jalan hidup bagi kami insan perbendaharaan untuk terus menyusuri pelosok negeri. Tugaslah yang menuntut kami untuk menjalani semua ini. Satu yang menjadi motivasi terbesar bagi kami bahwa kami hidup memang sebagai pengembara, dimana bumi dipijak disitulah tanah Allah. Hidup harus terus berjalan. Kalau sekedar kenyamanan yang kami cari, mungkin seharusnya bukan jalan ini yang kami tapaki. Namun darinya kami belajar bahwa hidup ini adalah perjuangan. Setidaknya kita bisa merasakan bahwa di negeri ini masih banyak yang perlu kita lakukan. Juga di kota yang kami singgahi kini. Manna Kota Kenangan.
   
 Manna, 31 Oktober 2013

    


Rabu, 09 Oktober 2013

SENJA






Falaa uqsimu bisysyafaq.
“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja. “(QS. Al Insyiqaq :16)
Senja, ya suatu waktu yang sangat aku rindui. Ada semacam ‘Anchor’ yang selalu mengingatkanku pada Robbku ketika waktu itu tiba. Terlebih ketika aku menyaksikan perlahan-lahan sang surya tenggelam diiringi “syafaq” cahaya merah yang memukau. Sepertinya dibalik cahaya itu akan ada kehidupan lain yang kekal. Ada semacam rasa pilu atau entah apa di hati ketika cahaya itu ada di hadapanku. Ada lintasan-lintasan kehidupan yang telah kulalui dari kecil hingga kini yang kemudian berkelebat seolah slide yang sedang diputar.
Ya Robb.. alangkah pendeknya hidup di dunia ini. Bayangan kematian yang pasti akan datang itu kembali terbayang. Semoga ini menjadi sebuah dzikrul maut yang akan menuntunku pada kehati-hatian dalam menjalani hidup. Semoga kelak jika saat itu datang, Engkau mematikanku dalam keadaan Husnul Khatimah dan memberiku tempat terbaik di sisiMu. Amiin.
Cahaya merah, ya.. sungguh suatu waktu yang menimbulkan kerinduanku padaMu. Bahkan Engkau menjadikannya untuk bersumpah. Bahwa, Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja…. Sungguh akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud, bahkan orang kafir mendustakannya.
Inilah yang harus menjadi pengingat, bahwa janji Allah adalah benar. Kita diciptakanNya dan pasti akan kembali padaNya. Ini adalah kepastian. Bahwa hidup dimulai dengan B, Born, kemudian berlanjut pada C, challenge, dan diakhiri dengan D, Die. Tapi setelah D masih berlanjut ke E, Eternity. Setidaknya ketika kita memahami ini kita akan tahu bahwa kita diciptakan tidak sekedar untuk bermain-main. Tapi kita membawa misi, khalifatul ardhi. Ya, manusia adalah khalifah dimuka bumi. Dan semoga kita tidak menjadi seperti apa yang disangkakan para malaikat ketika dikabarkan oleh Allah pada mereka tentang penciptakan manusia, yaitu pembuat kerusakan di muka bumi.
Jadi hidup ini tetaplah harus berarti. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat pada orang lain maka setidaknya kita tidak memberi  kemudharatan pada orang lain maupun makhluk lain. Bukankah setiap kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan indera kita akan menjadi saksi apa yang telah kita lakukan selama di dunia? Dan mereka adalah saksi-saksi yang benar. Akankah kita memperoleh pembelaan sehingga menjadikan catatan kita diberikan dari sebelah kanan (Al Insiqaq:7) ataukah dari sebelah belakang? Ini adalah pilihan.
Semoga catatan pagi ini akan menjadikan dzikirku padaMu. Bahwa hidup ini tidaklah sekekal kehidupan akhirat. Semoga di waktu yang pendek ini kita cukup untuk mencari bekal bagi kehidupan yang kekal. Meskipun hanya ridlo Allah semata yang mejadikan kita berada di JannahNya. Atakah kita merasa bahwa amal ibadah kita akan mampu mengapling syurga? Rasanya lirik nasyid “ Wahai Tuhan, kutak sanggup ke neraka-Mu, namun tak pula aku layak ke syurga-Mu, ini telah menjadi gambaran bagi setiap kita. Hanya belas kasih Allahlah yang menjadikan kita bias mencapai JannahNya. Wallahua’lam bishowab.

Manna, 8 Oktober 2013

Selasa, 08 Oktober 2013

Tebarkan Cinta, Tingkatkan Amal dan Ringankan Beban Sesama



There is difference between KNOWING the path and WALKING the path
[Morpheus – The Matrix Revolution]

Umi dan Sahabat...

            Adalah berbeda antara orang yang hanya sekedar tahu sebuah “jalan” dengan orang yang sepenuh perjuangan menapaki “jalan” tersebut. Mengetahui saja tidak cukup tapi jauh lebih baik jika merealisasikan apa yang kita tahu. Kita tahu shalat sunnah sebelum Shubuh itu fadhilahnya lebih utama dari pada dunia dan seisinya. Tapi lebih utama lagi jika kita istiqomah mengamalkannya. Kita tahu jalan dakwah itu kewajiban yang indah. Tapi lebih berkah jika kita turut bergerak di dalamnya. Itulah kelemahan kita, sering berilmu tapi belum maksimal dalam beramal.

              Di dunia ini tak sedikit orang yang berpengetahuan. Namun, dunia tidak jadi lebih baik hanya dengan itu. Dunia akan berubah ketika kita melakukan sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan yang kita punya. Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan :  “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia. Hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit yang ber-Islam. Dari mereka yang ber-Islam jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang, jauh sedikit lagi yang mau bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja yang sampai pada akhir perjalanan ”.

            Kita tentu tak asing lagi dengan firman Allah berikut ini : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. "(QS. 3:104)

            Allah sudah menyebutkan akan termasuk golongan yang beruntung bagi orang- orang yang menyeru dan berdakwah di jalan Nya. Kita tahu Allah Maha Benar, janji-Nya adalah sebuah kepastian. Jika Allah katakan beruntung, pasti akan beruntung. Tapi tidak semua dari kita mau dan sudah bergabung menjadi bagian dari barisan orang–orang beruntung sebagaimana yang disebutkan-Nya tersebut. Jadi, masihkah kita ragu untuk meniti jalan dakwah ini? Padahal Allah telah menyampaikan pujianNya melalui ayat berikut yang seharusnya memantapkan hati kita untuk tetap istiqomah :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Kita akan masuk dalam barisan khoiru ummah ketika bergabung dalam barisan orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Itu adalah janji Allah, dan sungguh janji Allah adalah benar.

Umi dan Sahabat ..

            Menjadi bagian dari dakwah tentulah bukan hal yang mudah. Ujian, cobaan, cacian, hinaan, dan godaan untuk tidak istiqomah datang sepanjang waktu. Menguji hampir setiap hari dan setiap kali. Rasa takut pasti akan dialami. Maka bagi orang–orang beruntung yang telah memilih menjadi bagian dari dakwah, meraka punya senjata ampuh untuk meneguhkan hati dan membangkitkan kembali semangat mereka.

            Sudah seharusnya motivasi dari Rabb tercinta ini menjadi pelecut bagi semangat kita untuk tetap berjuang menapaki jalan ini : “Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman ” (QS. Ali Imron 139)

            Berbahagialah bagi jiwa-jiwa yang telah memilih menafkahkan diri, harta dan jiwanya pada dakwah demi tegaknya kembali Izzah Islam wal muslimin. Dengan Al Qur’an dan Sunnah sebagai landasan bergeraknya, bagi merekalah kemenangan yang agung, "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (QS As Shaff 11-13)

Umi dan Sahabat..

            Semangat dakwah ini harus terus mewarnai hari-hari kita, terlebih di bulan suci ini. Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan adalah bulan bonus dimana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka di bulan inilah kesempatan kita untuk menebar kebaikan sebanyak mungkin, untuk menyambut dan mengisinya dengan optimal. Di bulan ini  terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka. Dan itu merupakan kemenangan yang membahagiakan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Rasulullah menyambut bulan Ramadhan dengan penuh perasaan bahagia dan suka-cita. Beliau ingatkan para sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal. Diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di harapan para sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

           Para sahabat dan salafus-shalih senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan Ali datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
         Diriwayatkan Anas bin Malik bahwa para sahabat Nabi saw ketika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta merta meraih mushaf mereka dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat harta mereka agar yang lemah menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Para gubernur memanggil tawanan, barangsiapa yang meski dihukum segera mereka dihukum atau dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk melunasi apa yang menjadi tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak mereka. Sampai ketika mereka melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi dan I’tikaf.”
Banyak membaca Al-Qur’an adalah salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Bersedekah dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan kewajiban sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah di bulan suci ini. Bukan dengan kegiatan fisik dan materi yang mereka siapkan, namun hati, jiwa, dan pikiran yang mereka hadapkan kepada Allah. Bukan sibuk dengan pakaian baru dan beragam makanan untuk persiapan lebaran yang mereka siapkan, namun semua makanan rohani dan pakaian takwa hingga mendapatkan janji Ramadhan.
Ibnu Mas’ud Al-Ghifari menceritakan,
“Aku mendengar Rasulullah saw –suatu hari menjelang Ramadhan – bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa itu Ramadhan tentu umatku akan berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”

Umi dan Sahabat..

         Marilah kita singsingkan lengan baju untuk mengisi Ramadhan dengan sebanyak mungkin kebajikan, Sebisa mungkin kita berbagi meski sekedar ilmu yang kita punya. Kalaupun kita berlebih pada harta maka keutamaan bagi kita untuk meringankan beban sesama. Mari kita berbagi pada yang lebih membutuhkan. Kurangi hal-hal yang sia-sia, sambung tali silaturahmi yang terputus, Semoga Allah meridloi setiap langkah kita. Amiin. Kita tidak tahu apakah kita juga akan mendapati bulan suci ini tahun depan ataukah kita mendapatinya menjadi Ramadhan yang terakhir bagi kita. Wallahu a’lam.


***************



RESUME BUKU KARYA FATHI YAKAN : YANG BERGUGURAN DI JALAN DAKWAH


PENDAHULUAN
Fenomena berjatuhan (seperti : penyelewangan, penyimpangan, pengunduran diri dsb) dalam perjalanan dakwah adalah gejala umum, mencemaskan dan kronis. Diantara mereka ada yang meninggalkan dakwah dan tidak meninggalkan islam, ada pula yang meninggalkan jamaah dan mendirikan jamaah lain bahkan ada yang meninggalkan dakwah dan meninggalkan islam secara bersamaan.
Dalam banyak hal dan waktu, gejala berjatuhan ini menjadi faktor pendukung tersebarnya gejala negatif lain yaitu terpecahnya amal islami yang pada gilirannya berjatuhanlah para aktifis dan da’i dalam kancah pertarungan kalangan islam sendiri.
Yang harus menjadi  peringatan adalah bahwa fenomena ketergelinciran ini tidak saja menimpa barisan depan, para pendiri gerakan dan para pendahulu tapi juga para penerusnya.
Jika sebagian orang menilai jatuhnya mereka yang “berjatuhan” sebagai suatu fenomena sehat yang harus terjadi guna memperbaharui sel-sel inti dan membebaskan diri dari hambatan pergerakan, namun sejatinya ini adalah persepsi yang tidak baik sama sekali. Tetapi fenomena “berjatuhan” sesungguhnya lebih menyerupai banjir yang menghanyutkan segala yang berharga dan tidak berharga. Padahal di QS. Al Anfal Allah mengingatkan : “ Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang yang dzolim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanya.”

BAB I FENOMENA YANG BERJATUHAN DI MASA NABI

Fenomena keterjatuhan di masa nabi belumlah menonjol sebagaimana di masa modern ini, akan tetapi lebih kepada terjerumusnya oknum-oknum ke dalam kekeliruan dimana umat dihadapkan pada 2 alternatif saja yaitu Islam atau jahiliyah yaitu berkisar tanpa keluar dari barisan Islam. Adapun dewasa ini ada beragam pandangan, namun yang terpenting adalah bahwa seseorang yang keluar dari pergerakan tidak berarti ia keluar dari agama Islam. Hal ini sangatlah memnbuka peluang untuk lari dari barisan sedang oknum tersebut tidak menyadari bahwa ia telah melakukan maksiat dan dosa.
Berikut adalah beberapa fenomena yang berjatuhan di masa nabi :
1.         Para pembelot perang Tabuk.
Ka’ab bin Malik, Murarrah Ibnu AR Rabi’ dan Hilal bin Umayah adalah 3 orang muslim yang membelot bukan karena ragu-ragu dan bukan karena sifat nifaq. Karena pada ketiganya sesungguhnya tidak pernah diketahui kecuali kebaikan. Akan tetapi mereka membelot lebih karena menunda-nunda persiapan. Namun apa yang terjadi adalah ketiganya tidak ikut serta dalam perang tabuk hingga Rosullullah kembali. Hal ini mengakibatkan Rosullullah memerintahkan kepada para sahabat beliau : “ Janganlah kalian berbicara dengan seorangpun diantara mereka bertiga!
Pengucilan oleh Rasul dan para sahabat terhadap Ka’ab bin Malik, Murarrah Ibnu AR Rabi’ dan Hilal bin Umayah, sangat menyiksa bagi ketiganya sebagaimana disebutkan Allah bahwa bumi ini terasa sempit bagi mereka. Bahkan para istrinyapun dilarang untuk melayani kebutuhannya. Pengucilan itu mereka alami sampai lima puluh hari dan pada pagi kelima puluh barulah Rosulullah mengumumkan kepada manusia bahwa Allah menerima taubat ketiganya yaitu dengan turunnya QS. At Taubah : 117-119 : “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Namun satu yang harus menjadi catatan adalah bahwa ketiganya ketika itu tidak berdusta kepada Rosulullah sebagaimana orang-orang munafiq membela diri dengan berdusta. Mereka tetap bersabar hingga Allah memutuskan persoalan mereka. Dan mereka bertiga termasuk orang yang ditangguhkan.
2.         Hathib Ibnu Abi Balta’ah
Hathib Ibnu Abi Balta’ah adalah salah seorang sahabat Rosul yang terjerumus kepada hal “pembocoran rahasia negara dan pengkhianatan besar”. Ketika Rosulullah memutuskan untuk suatu perjalanan ke Mekah, Hathib bin Abi Balta’ah menulis sepucuk surat kepada orang Quraisy yang mengabarkan tentang bersepakatnya Rosulullah untuk suatu perjalanan menuju mereka (Quraisy). Surat tersebut diberikan pada seorang perempuan dari kabilah Muzainah, budak dari Bani Abdulmunthalib. Kemudian Allah menurukan wahyu pada Rosul atas apa yang diperbuat Hathib. Maka Rosul pun segera mengutus Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwan untuk mengejar perempuan tersebut. Yang menjadi alasan Hathib adalah bahwa ia khawatir keadaan keluarganya yang ada di kalangan orang Quraisy karena Hathib tidak memiliki sanak keluarga di kaum Muslimin. Namun demikian Hathib akhirnya diampuni oleh Rosulullah karena sebagai salah seorang ahli Badr dan Allah menurunkan QS. AL Mumtahanah 1-4 terhadap peristiwa Hathib :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,............. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja..... dst smp akhir ayat.”
3.         Peristiwa Bohong (Haditsul Ifk)
Peristiwa Haditsul Ifk ini terjadi ketika Rosulullah melakukan perjalanan dan yang keluar undiannya dari istri beliau untuk mengikuti perjalanan itu adalah ‘Aisyah r.a. Peristiwa ini berawal dari jatuhnya kalung aisyah ketika beliau keluar dari tandu untuk suatu keperluan. Tanpa diketahui bahwa aisyah keluar dari tandu tersebut dan belum kembali karena masih mencari kalungnya yang jatuh, rombongan berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah berharap bahwa rombongan akan segera menyadari ketiadaan dirinya dan tetap menunggu di tempat pemberhentian semula. Namun hingga Shafwan ibnul Mu’athtal As Sulami yang diberi tugas berjalan dibelakang pasukan sebagai pasukan “sapu bersih” itu melewati tempat Aisyah, rupanya rombongan masih tidak menyadari ketertinggalan Aisyah. Dan Akhirnya Aisyah menumpang di unta yang di tuntun oleh Shafwan. Maka fitnah pun tidak dapat dihindarkan. Rosulullah pun berpaling dari ‘Aisyah dan Aisyah pindah ke rumah orang tuanya karena melihat Rosulullah tidak senang padanya. Aisyah demikian menderita dengan peristiwa berpalingnya Rosul darinya hingga sampailah berita itu padanya bahwa Misthah dan Hamnah binti Jahsy dan juga Abdullah bin Ubbay telah menyebarkan berita bohong. Fitnah itu telah menyakiti kehormatan Rosul hingga akhirnya turun wahyu yang menyatakan Aisyah bersih dari apa yang dituduhkan. Ayat yang turun berkenaan dengan fitnah terhadap Aisyah ini dalah QS. An Nuur : 11-12 :
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata"
4.         Masjid Dhirar
Masjid Dhirar adalah masjid yang didirikan untuk memecah belah kaum muslimin, maka Rosulullah memerintahkan untuk menghancurkannya. Kepada Mereka diturunkan pula QS. At Taubah :107 : “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).”
5.         Peristiwa Abu Lubabah
Ketika Rosulullah mengutus Abu Lubabah bin Abdil Munzir kepada Bani Quraizah guna memenuhi tuntutan mereka setelah mereka mengkhianati dan membatalkan perjanjian dan bersekongkol terhadap umat islam –muncul darinya apa yang dianggap khianat pada Rosulullah. Namun laki-laki itu, begitu terjerumus, cepat menyadari dan menyesali perbuatannya serta menebus kesalahannya dengan mengikatkan dirinya ke tiang masjid. Terhadap peristiwa Abu Lubabah ini turun QS. Al Anfal :27 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Disamping kelima peristiwa yang dikemukakan diatas masih banyak lagi contoh-contoh sepanjang sejarah. Namun pada peristiwa-peristiwa tersebut umumnya berakhir dengan kesadaran oknum atas kesalahannya dan bersegera taubat serta insyaf tanpa sikap yang berlebihan ataupun terus menerus berlaku salah. Disana nampak adanya kesucian niat, kebersihan maksud, keaslian inti serta dorongan kuat atas kesatuan barisan dan komitmen berjamaah. Ini amat berbeda dengan yang berjatuhan di zaman modern ini dimana fenomena berjatuhan dewasa ini ditujang oleh penyakit gawat, buruk dan keras seperti hilangnya kesetiaan, hapusnya kekeluargaan, kemunafikan serta kedengkian dan penipuan atas umat islam. Para pemecah belah tidak cukup hanya mengacau badan memecah belah barisan bahkan mereka menantang perang saudara mereka sendiri. Ini tentu bukanlah akhlaq dan ajaran islam. Karena Rosulullah pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah : “Kemuliaan seorang mu’min adalah agamanya, peradabannya adalah akalnya dan kehormatannya adalah akhlaknya.”

BAB II SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

Sebab-sebab berjatuhan bisa terletak dari pergerakan, individu maupun situasi yang menekan.
1.         Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan.
Sebab-sebab yang membantu individu dakwah berjatuhan dan tanggung jawab berada di pundak pergerakan antara lain :
a.       Lemahnya segi pendidikan
Pendidikan atau tarbiyah mengambil posisi penting dalam pengontrolan setiap individu aktifis dakwah. Para aktifis yang telah berada pada posisi politis, administratif dan lainnya seringkali menyangka telah mencapai puncak aktifitas dan telah mewujudkan kemenangan tanpa merasakan kehampaan jiwa, kemuduran pendidikan dan kemerosotan iman dalam kehidupannya. Padahal Rosulullah bersabda “ Sesungguhnya iman itu telah menjadi lusuh (rapuh) dalam diri kamu sebagimana pakaian menjadi lusuh. Maka mintalah kepada Allah agar Dia memperbahari iman di dalam hatimu. “ (HR. Tabrani dan Hakim)
Islam mengajarkan bahwa manusia itu selalu dalam ujian bersama dakwahnya dan selalu dalam cobaan bersama dirinya. Karenanya dia diharuskan untuk  memperhatikan dirinya, ingat Rabbnya, mengontrol kelakuannya dan menyuburkan imannya. Pergerakan yang lemah kemampuan pendidikannya untuk memenuhi kebutuhan individunya akan kontrol dan pendidikan maka bangunan dan tubuhnya mudah diserang penyakit, sebaliknya apabbila perhatian dan imunitas pendidikannya terpenuhi maka akan memiliki imunitas (daya tahan). Ikatan Individu dan pergerakannya haruslah didasarkan atas ikatannya dengan Allah dan Islam. Pergerakan hanyalah sarana dan bukan tujuan.
b.       Tidak menempatkan individu pada posisi yang tepat
Pergerakan yang mempunyai kesadaran dan kematangan adalah pergerakan yang mengenal kemampuan, kecenderungan dan pembawaan masing-masing personalnya. Mengenal titik-titik kekuatan dan kerawanan mereka. Dari situlah pergerakan bisa menempatkan “the right man in the right place”. Apabila pergerakan dalam proses pemilihan posisi memutuskan tanpa pandangan-pandangan obyektif maka rusaklah keseimbangan  (equilibrium) dalam segala jaringannya. Karena “apabila suatu urusan dalam suatu pergerakan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya..”
Oleh karenanya pergerakan berkewajiban mengklasifikasikan potensi personal-personalnya menurut spesialisasi reputasi mereka seperti bidang pendidikan, politik, keuangan dan ekomomi maupun urusan olah raga dan seterusnya.
c.        Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu
Fenomena ini termasuk fenomena yang paling berbahaya bagi pergerakan karena aktifitas tertumpuk pada tangan sekelompok tertentu sementara sebagian besar personalnya tidak kebagian pekerjaan. Pergerakan yang memiliki potensi tenaga yang bermacam-macam haruslah menyusun program dan perencanaan sesuai dan seimbang dengan setiap bidang dan spesialisasinya. Kesuksesan pergerakan dalam mendistribusikan tugas tenaga-tenaga personalnya merupakan awal kesuksesan dan kemajuannya. Setiap individu dalam pergerakan haruslah bertanggung jawab dan perperan, merasa sebagai anggota yang produktif dan aktif bekerja sesuai kapasitasnya. Penugasan yang benar adalah penugasan yang tidak mensia-siakan tenaga walaupun kecil.
d.       Tidak adanya monitoring individu
Diantara faktor yang mendorong berjatuhan individu-individu dari pergerakan adalah tidak adanya pemantauan terhadap mereka, juga tidak adanya perhatian pergerakan terhadap situasi-situasi khusus atau umum yang berpengaruh kepada mereka.Individu-individu pergerakan seperti juga manusia lainnya yang mengalami situasi-situasi gawat, krisis dan problematika yang bermacam-macam. Jika pergerakan memantu dan menolongnya maka mereka dapat melaluinya dengan selamat dan jiwa mereka penuh kepercayaan terhadap pergerakan. Mereka akan mengiring langkahnya dengan semangat dan pengabdian yang meningkat. Namun apabila yang terjadi sebaliknya maka mereka akan ditimpa kekecewaan dan kekosongan jiwa yang akan melemparkan mereka keluar dari lingkungan pergerakan. Sabda Rosulullah : “Perumpamaan orang mukminin dalam hal saling mencintainya, kasih sayang dan kesetiakawanan antara mereka seperti satu tubuh, yang apabila salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit maka seluruh tubunhnya saling terpanggil untuk sama-sama merasakan berjaga semalaman dan demam.” (HR. Muslim)
Dalam pergerakan, pemantauan bisa dilaksanakan dari dua segi yaitu dai pihak organisasi diantara jaringannya dan dari pihak persaudaraan diantara individu-individunya.
e.       Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat
Efek dari tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat akan berakibat pada kekusutan berbagai urusan dan problema dan menemukan jalan buntu. Pada hakekatnya cepatnya memutuskan berbagai  urusan dan mengatasi segala permasalahan dapat membebaskan pergerakan dari kelesuan. Menjauhkan dari ancaman dari dalam yang sering berakhir dengan kerugian dan berjatuhannya sebagian mereka dan berjatuhannya yang lain.
f.         Konflik Internal
Konflik internal menjadi musibah paling berbahaya bagi pergerakan yang mengakibatkan kehancuran dan perusak yang meruntuhkan. Sebab-sebab antara lain : Lemahnya kepemimpinan dan tidak mampu konsolidasi, Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan dari luar yang sengaja menyebar fitnah, perbedaan watak akibat perbedaan latar belakang, persaingan kedudukan, tidak adanya komitmen pada politik, institusi dan dasar pergerakan,  Kefakuman aktifitas dan produktifitas yang harusnya menjadi kesibukan para aktifis dakwah.
g.       Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified
Kelemahan kepemimpinan dan ketidakmampuan merangkul dan memelihara barisan pada setiap periode, situasi dan kondisi bisa berakibat pada berjatuhannya individu.Karenanya sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang yang memegang kepemimpinan pergerakan adalah sbb:
·         Mengenal dakwah : mengenal ideologi, doktrin dan organisasi serta mengikuti kegiatan dan aktifitas pergerakan.
·         Mengenal diri sendiri :mengakui dan menyadari kelemahan diri, menemukan kekuatan yang ada pada dirinya, berambisi untuk mengembangan pengetahuan umum dan mempunyai perhatian terhadap berbagai tokoh pemimpin.
·         Pengayom yang kontinu/ Perhatian penuh :perhatian dari pimpinan akan memantapkkan dan memperteguh kepercayaan individu dakwah.
·         Teladan yang baik : Individu akan menjadikan pemimpin mereka sebagai contoh suri teladan sebagaimana QS. AL Ahzab : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
·         Pandangan yang tajam : Kemampuan melakukan penilaian yang cepat dan tepat akan memberikan keputusan yang tepat
·         Kemauan yang kuat
·         Kharisma kepribadian yang fitrah : Akan mempesona hati tanpa kesulitan
·         Optimisme : diliputi cita-cita dan jiwa yang bersih.

2.         Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu
Dengan adanya tanggung jawab pergerakan terhadap fenomena berjatuhan tidak menjadikan individu terbebas dari pertanggungjawaban karena sesungguhnya kebanyakan sebab-sebab fenomena berjatuhan itu bersumber dari para individu sendiri. Berikut adalah sebab-sebab yang bersumber dari individu :
a.       Watak yang tidak disiplin: tidak mau berasimilasi dan beradaptasi dalam lingkungan jama’ah dan berkeinginan kuat mempertahankan sifat-sifat kepribadiannya.
b.       Takut terancamnya diri dan periuk nasi : takut mati dan miskin sehiingga setan masuk melalui pintu ini : QS. An nisa :120 Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”
Cobaan terhadap jamaah ini juga sudah disampaikan Rosulullah dalam salah satu sabdanya : “ Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih shaleh kemudian menyusul lagi yang lebih utamanya. Sesorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya lemah, ia dicoba menurut kadar agamnya itu. Cobaan itu selalu datang kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan di atas bumi ini sedang tidak ada atasnya kesalahan.”(HR. Bukhari, Ahmad dan Turmidzi)
“ Celakalah abdi dinar, abdi dirham, abdi pakaian, celaka dan sengsaralah ia. Bila ia tertusuk duri maka ia tidak akan tercabut” (HR. Ibnu Majah)
c.        Sikap Ekstrim dan berlebih-lebihan (axcessive): membebankan diri di luar kemampuan dan tidak menerima sikap pertengahan. Orang zuhud bukanlah orang miskin yang kantongnya tidak berisi dinar dan dirham. Akan tetapi orang zuhud adalah yang apabila ketiban harta duniawi, ia tidak lantas menjadi sombong dan durhaka dan jika tidak mendapatkan hal-hal duniawi ia tidak sedih dan kafir..
d.       Sikap terlalu bermudah-mudah dan meremehkan : Sesungguhnya gunung terdiri dari batuan kerikil kecil. Orang yang terlalu bermudah-mudah dalam melaksanakan perintah Allah dan komitmennya dengan hukum Syara’ mereka akan mendapatkan dirinya terdorong dari sikap bermudah-mudah dalam hal-hal kecil kepada hal-hal yang besar.Orang yang terbiasa meremehkan berbagai hal tidak akan mampu memikul kewajiban pada suatu waktu. Dalam salah satu hadist riwayat Nasa’i dari Aisyah Rosulullaj bersabda : “Hai Aisyah! Hendaklah engkau menjauhi sikap mengecil-ngecilkan dosa. Sesungguhnya dosa-dosa itu itu mempunyai penuntut dari Allah.”
e.       Tertipu kondisi gemar menampilkan diri : Sabda Nabi s.a.w : “Sesungguhnya yang paling saya takutkan atas umatku adalah syirik kepada Allah, saya tidak mengatakan mereka menyembah matahari, bulan atau berhala, tetapi adalah amal-amal yang bukan karena Allah dan dan keinginan tersembunyi.” (HR. Ibnu Majah). Sesungguhnya dakwah Islamiah tidak layak untuk orang yang congkak dan sombong dan orang yang takabbur dan angkuh.”Tiga perkara yang membinasakan yaitu : bakhl yang diperturutkan, nafsu yang tak terkendali dan kekaguman seorang akan dirinya sendiri” (HR. Tabrani)
f.         Kecemburuan terhadap orang lain
ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS. An Nisa : 54)
g.       Bencana senjata
Fenomena ektrimisme yang paling berbahaya adalah apa yang ada hubungannya dengan penggunaan kekuatan (senjata)

3.         Sebab Tekanan Luar (External Pressure)
a.       Tekanan dari suatu cobaan : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut : 1-3) Cobaan ini merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjatuhnya sebagian orang dalam lingkungan islam, bersamaan itu bagi sebagian orang sebaliknya menjadi faktor penguat, menjadikan terpercaya, tangguh serta mantap.
b.       Tekanan keluarga dan kerabat : Sedikit sekali orang yang bisa selamat dari tekanan ini karena diusik kekhawatiran terhadap anak-anak mereka yang ditimpa penbderitaan seperti yang menimpa para da’i, pejuang dan aktivis pada setiap masa dan tempat..Padahal Allah telah mengingatkan di QS. At Taubah : 24 : “Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
c.        Tekanan lingkungan (Environment Pressure) : Diingatkan bahwa Imam Syahid hasan Al Bana ketika melepas seorang saudara ke negeri asing maka dua hal yang beliau ingatkan yaitu perempuan dan minuman keras.
d.       Tekanan gerakan agitasi : Gerakan agitasi tidak ada pekerjaan selain menyebar keragu-raguan dan kritik seolah cangkul yang menghujam dan meruntuhkan pergerakan Islam atas nama Islam. Bangkitnya kelompok-kelompok Islam tersebut mengakibatkan timbulnya kerancuan gambaran Islam dan kerancuan kepribadian Islam dan membawa pada kerancuan amal islam itu sendiri.
e.       Tekanan figuritas : Kekaguman perhadap tokoh dan embel-embelnya masuk sebagai penyakit kekaguman dan tertipu, cinta kebesaran dan ananiyah. Hal inipula yang menjerumuskan iblis ketika ia berbangga dengan dosanya lalu berkata :
“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al A’raaf : 12)
Penokohan merupakan malapetaka bagi kehidupan dakwah dan menjadi pintu gerbang syaitan masuk dalam diri mereka.
Terakhir doa kita, Segala puji bagi Allah Rabb pemelihara semesta. Mohon Kebenaran, kemantapan dan husnul khotimah. Kita berlindung denganNya dari kehilangan nikmat, kedahsyatan siksaan, kehilangan kesehatan dan buruknya kesudahan. Sesungguhnya Dia Maha Menerima doa hambanya.. Amiin.

(oleh : Yuli Rohmawati)


******




Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...