Manna adalah kota ketiga yang kami singgahi setelah Mataram dan Sidoarjo.
Kota ini berada di pinggir pesisir selatan Sumatera, cukup kecil jika
dibandingkan dengan dua kota yang kami tinggali sebelumnya.
Mataram, ketika kami datang untuk pertama kalinya belumlah seramai
sekarang. Jalanan masih sedikit sepi namun bluebird
taxi sudah menjadi moda tranportasi
yang lumrah disana. Mungkin karena keindahan alamnya sehingga saat itu mataram
sudah menjadi tujuan wisata kedua setelah Bali. Turis mancanegara menjadi
pemandangan biasa di sekitar kawasan wisatanya. Senggigi adalah salah satu
obyek wisata yang menawarkan pesona alam dengan pantai pasir putihnya dan
lokasi yang paling dekat untuk dijangkau dari kota Mataram. Alamnya masih asri
dan indah, penduduknya pun cukup ramah. Ada cidomo(cikar-dokar-mobil) yang
menjadi transportasi tradisional yang beroperasi dengan kuda sebagai motor
penggeraknya. Kantor-kantor pemerintahan memiliki desain eksterior yang hampir sama. Bentuknya
mengadopsi bentuk rumah adat suku sasak. Perkampungan suku sasak asli pun masih
bisa dijumpai di lereng rinjani. Ada situs adat yang masih asli yang boleh
dikunjungi di daerah senaru. Ini adalah pengalaman yang mengagumkan, yang terkadang menggelitik hati
untuk menyinggahinya kembali. Terlebih disinilah saya dipertemukan dengan orang
yang kini menjadi ayah dari anak-anak saya.
Sementara Sidoarjo, kota ini cukup besar
karena menjadi kota satelitnya Surabaya. Ibarat Jakarta, maka Sidoarjo adalah
botabek-nya Surabaya. Budaya blak-blakan alias terbuka menjadikan kami belajar
keterbukaan dari kota ini. Orang Sidoarjo-Surabaya hampir memiliki kemiripan
karakter. Terbuka, biasa dan apa adanya. Berbeda dengan karakter saya yang
sedikit tertutup karena terbiasa memakai budaya Jawa-Jogja yang penuh
unggah-ungguh dan sedikit feodal. Dari sinilah saya belajar banyak, saya
belajar memahami karakter dan memahami perbedaan. Kota ini jugalah yang
mewarnai perjalanan hidup kami . Di kota ini dua buah hati kami terlahir sebagai
arek sidoarjo. Kota yang memberi kesan tersendiri di hati saya karena saya
hampir menyinggahinya selama delapan tahun dan terpisah dengan suami karena dia
harus mutasi sementara saya baru menginjak semester ke-3 tugas belajar. Di kota
ini juga saya belajar untuk hidup mandiri terpisah jauh dari suami selama tiga
tahun lamanya. Rupanya beginilah rasanya nyonya-nyonya ditjen perbendaharaan
yang hidupnya tidak selalu bersama suami. Setelah delapan tahun menikmatinya,
saya dan anak-anak pun harus kembali pada kewajiban. Mengikuti kembali ke kota
tempat tugas suami sekaligus kembali lagi kepada ditjen perbendaharaan yang
telah bertahun-tahun saya tinggalkan. Ya, kami harus berangkat ke Manna.
Manna, kota yang
dulu saya jadikan bahan olokan ketika salah seorang adik kelas yang magang
di Sidoarjo memperoleh penempatan kesana. "Penempatan di Manna atau
dimana, dik?" Rupanya saya pun harus berangkat ke kota ini. Ya, kota yang
kecil dan sederhana. Kecil karena kalau kita memutarinya mungkin tidak sampai
setengah jam sudah kembali ke posisi semula. Sederhana, karena di kota ini kita
bisa belajar hidup sederhana, tanpa keramaian mall atau keramaian kota pada
umumnya. Namun begitu kota ini memiliki berbagai keunikan.
Kota ini penduduk aslinya adalah suku serawai dan pesisir. Namun
suku padang dan jawa pun banyak yang merantau ke kota ini. Demikian juga suku
pasemah dari Sumatera Selatan. Disini juga banyak persatuan-persatuan suku
salah satunya yang tergolong besar adalah PJB yaitu Persatuan Jawa Bengkulu.
Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Bahasa Serawai. Sebagaian kata-katanya
ada sedikit kemiripan dengan bahasa Indonesia namun untuk a menjadi au, seperti
kata kota dalam bahasa serawai disebut kutau. Anak saya yang semula sangat
mahir bahasa suroboyoan, tak lama setelah masuk ke kota ini sudah memiliki
banyak kosa kata serawai. Anak-anak memang mengagumkan. Sepertinya bukan suatu
kesalahan ketika kami doktrin mereka bahwa "kalian anak seribu
pulau". Karena kami harapkan mereka menjadi anak-anak bermental pejuang yang
siap mengiringi kemana orangtuanya dipindahtugaskan. Jadi tidak ada rengekan
dan tidak ada tangisan ketika mall yang biasanya bisa dijangkau dalam hitungan
menit kini hanya hutan yang bisa dijangkau dalam hitungan menit.
Selain
menawarkan wisata alam pantainya yaitu pantai Pasar Bawah, Muara Kedurang juga
pantai-pantai di selatan Manna yang berpasir putih, Manna juga menawarkan
beberapa peninggalan sejarah seperti bunker-bunker Jepang dan Meriam Honisuit
peninggalan Inggris.
Sama seperti kota-kota sebelumnya yang
memberi kenangan, sebagaimana semboyannya Manna Kota Kenangan, kota ini pun memiliki
arti khusus bagi kami. Disini kami memiliki banyak Saudara yang dipertemukan
dalam jalinan ukhuwah. Disini juga Tuhan memberikan kembali limpahan rizqinya
dengan lahirnya puteri kami yang ketiga. Si kecil yang lahir di kota kenangan.
Tahun ini memasuki tahun keenam suami bertugas disini. Kami pun
harus siap-siap berkemas lagi. Entah ke kota mana lagi akan kami bawa bahtera
ini.
Berpindah dari satu kota ke kota lain sejatinya mengajari kami
untuk menjadi laksana air. Memiliki fleksibilitas sesuai wadah yang
melingkupinya. Ini adalah salah satu hikmah yang bisa kami petik sebagai
seorang insan perbendaharaan. Kami lebih melihat tuntutan tugas untuk terus berotasi
dari satu daerah ke daerah lain ini dari sisi positifnya. Dengan memandang
permasalahan dari sisi positif akan membuat kita bisa terus bersyukur. Pun
ketika kontrakan habis ini akan membawa kita untuk 'dzikrul maut' atau
mengingat mati. Bahwa kita hidup pun menjalani kontrak, ada waktunya untuk
habis masanya. Bedanya ketika rumah kontrakan habis masa maka kita bisa
memperpanjang namun tidak demikian dengan usia kita. Tidak ada masa
perpanjangan. Karenanya hidup kita harus berarti, di belahan bumi mana pun itu.
Tidak ada lagi waktu untuk meratapi nasib, yang ada adalah menapaki setiap
jengkal dan setiap hela nafas yang masih diberikanNya.
Mungkin ini
menjadi jalan hidup bagi kami insan perbendaharaan untuk terus menyusuri
pelosok negeri. Tugaslah yang menuntut kami untuk menjalani semua ini. Satu
yang menjadi motivasi terbesar bagi kami bahwa kami hidup memang sebagai
pengembara, dimana bumi dipijak disitulah tanah Allah. Hidup harus terus
berjalan. Kalau sekedar kenyamanan yang kami cari, mungkin seharusnya bukan
jalan ini yang kami tapaki. Namun darinya kami belajar bahwa hidup ini adalah
perjuangan. Setidaknya kita bisa merasakan bahwa di negeri ini masih banyak
yang perlu kita lakukan. Juga di kota yang kami singgahi kini. Manna Kota
Kenangan.
Manna, 31 Oktober 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar