Selasa, 29 Oktober 2013

DARINYA KAMI BELAJAR

           


Manna adalah kota ketiga yang kami singgahi setelah Mataram dan Sidoarjo. Kota ini berada di pinggir pesisir selatan Sumatera, cukup kecil jika dibandingkan dengan dua kota yang kami tinggali sebelumnya. 
Mataram, ketika kami datang untuk pertama kalinya belumlah seramai sekarang. Jalanan masih sedikit sepi namun bluebird taxi sudah menjadi moda tranportasi yang lumrah disana. Mungkin karena keindahan alamnya sehingga saat itu mataram sudah menjadi tujuan wisata kedua setelah Bali. Turis mancanegara menjadi pemandangan biasa di sekitar kawasan wisatanya. Senggigi adalah salah satu obyek wisata yang menawarkan pesona alam dengan pantai pasir putihnya dan lokasi yang paling dekat untuk dijangkau dari kota Mataram. Alamnya masih asri dan indah, penduduknya pun cukup ramah. Ada cidomo(cikar-dokar-mobil) yang menjadi transportasi tradisional yang beroperasi dengan kuda sebagai motor penggeraknya. Kantor-kantor pemerintahan memiliki desain eksterior yang hampir sama. Bentuknya mengadopsi bentuk rumah adat suku sasak. Perkampungan suku sasak asli pun masih bisa dijumpai di lereng rinjani. Ada situs adat yang masih asli yang boleh dikunjungi di daerah senaru. Ini adalah pengalaman yang mengagumkan, yang terkadang menggelitik hati untuk menyinggahinya kembali. Terlebih disinilah saya dipertemukan dengan orang yang kini menjadi ayah dari anak-anak saya.
     Sementara Sidoarjo, kota ini cukup besar karena menjadi kota satelitnya Surabaya. Ibarat Jakarta, maka Sidoarjo adalah botabek-nya Surabaya. Budaya blak-blakan alias terbuka menjadikan kami belajar keterbukaan dari kota ini. Orang Sidoarjo-Surabaya hampir memiliki kemiripan karakter. Terbuka, biasa dan apa adanya. Berbeda dengan karakter saya yang sedikit tertutup karena terbiasa memakai budaya Jawa-Jogja yang penuh unggah-ungguh dan sedikit feodal. Dari sinilah saya belajar banyak, saya belajar memahami karakter dan memahami perbedaan. Kota ini jugalah yang mewarnai perjalanan hidup kami . Di kota ini dua buah hati kami terlahir sebagai arek sidoarjo. Kota yang memberi kesan tersendiri di hati saya karena saya hampir menyinggahinya selama delapan tahun dan terpisah dengan suami karena dia harus mutasi sementara saya baru menginjak semester ke-3 tugas belajar. Di kota ini juga saya belajar untuk hidup mandiri terpisah jauh dari suami selama tiga tahun lamanya. Rupanya beginilah rasanya nyonya-nyonya ditjen perbendaharaan yang hidupnya tidak selalu bersama suami. Setelah delapan tahun menikmatinya, saya dan anak-anak pun harus kembali pada kewajiban. Mengikuti kembali ke kota tempat tugas suami sekaligus kembali lagi kepada ditjen perbendaharaan yang telah bertahun-tahun saya tinggalkan. Ya, kami harus berangkat ke Manna.
            Manna, kota yang dulu saya jadikan bahan olokan ketika salah seorang adik kelas yang magang di Sidoarjo memperoleh penempatan kesana. "Penempatan di Manna atau dimana, dik?" Rupanya saya pun harus berangkat ke kota ini. Ya, kota yang kecil dan sederhana. Kecil karena kalau kita memutarinya mungkin tidak sampai setengah jam sudah kembali ke posisi semula. Sederhana, karena di kota ini kita bisa belajar hidup sederhana, tanpa keramaian mall atau keramaian kota pada umumnya. Namun begitu kota ini memiliki berbagai keunikan.
Kota ini penduduk aslinya adalah suku serawai dan pesisir. Namun suku padang dan jawa pun banyak yang merantau ke kota ini. Demikian juga suku pasemah dari Sumatera Selatan. Disini juga banyak persatuan-persatuan suku salah satunya yang tergolong besar adalah PJB yaitu Persatuan Jawa Bengkulu. Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Bahasa Serawai. Sebagaian kata-katanya ada sedikit kemiripan dengan bahasa Indonesia namun untuk a menjadi au, seperti kata kota dalam bahasa serawai disebut kutau. Anak saya yang semula sangat mahir bahasa suroboyoan, tak lama setelah masuk ke kota ini sudah memiliki banyak kosa kata serawai. Anak-anak memang mengagumkan. Sepertinya bukan suatu kesalahan ketika kami doktrin mereka bahwa "kalian anak seribu pulau". Karena kami harapkan mereka menjadi anak-anak bermental pejuang yang siap mengiringi kemana orangtuanya dipindahtugaskan. Jadi tidak ada rengekan dan tidak ada tangisan ketika mall yang biasanya bisa dijangkau dalam hitungan menit kini hanya hutan yang bisa dijangkau dalam hitungan menit. 
            Selain menawarkan wisata alam pantainya yaitu pantai Pasar Bawah, Muara Kedurang juga pantai-pantai di selatan Manna yang berpasir putih, Manna juga menawarkan beberapa peninggalan sejarah seperti bunker-bunker Jepang dan Meriam Honisuit peninggalan Inggris. 
       Sama seperti kota-kota sebelumnya yang memberi kenangan, sebagaimana semboyannya Manna Kota Kenangan, kota ini pun memiliki arti khusus bagi kami. Disini kami memiliki banyak Saudara yang dipertemukan dalam jalinan ukhuwah. Disini juga Tuhan memberikan kembali limpahan rizqinya dengan lahirnya puteri kami yang ketiga. Si kecil yang lahir di kota kenangan.  
Tahun ini memasuki tahun keenam suami bertugas disini. Kami pun harus siap-siap berkemas lagi. Entah ke kota mana lagi akan kami bawa bahtera ini. 
Berpindah dari satu kota ke kota lain sejatinya mengajari kami untuk menjadi laksana air. Memiliki fleksibilitas sesuai wadah yang melingkupinya.  Ini adalah salah satu hikmah yang bisa kami petik sebagai seorang insan perbendaharaan. Kami lebih melihat tuntutan tugas untuk terus berotasi dari satu daerah ke daerah lain ini dari sisi positifnya. Dengan memandang permasalahan dari sisi positif akan membuat kita bisa terus bersyukur. Pun ketika kontrakan habis ini akan membawa kita untuk 'dzikrul maut' atau mengingat mati. Bahwa kita hidup pun menjalani kontrak, ada waktunya untuk habis masanya. Bedanya ketika rumah kontrakan habis masa maka kita bisa memperpanjang namun tidak demikian dengan usia kita. Tidak ada masa perpanjangan. Karenanya hidup kita harus berarti, di belahan bumi mana pun itu. Tidak ada lagi waktu untuk meratapi nasib, yang ada adalah menapaki setiap jengkal dan setiap hela nafas yang masih diberikanNya. 
            Mungkin ini menjadi jalan hidup bagi kami insan perbendaharaan untuk terus menyusuri pelosok negeri. Tugaslah yang menuntut kami untuk menjalani semua ini. Satu yang menjadi motivasi terbesar bagi kami bahwa kami hidup memang sebagai pengembara, dimana bumi dipijak disitulah tanah Allah. Hidup harus terus berjalan. Kalau sekedar kenyamanan yang kami cari, mungkin seharusnya bukan jalan ini yang kami tapaki. Namun darinya kami belajar bahwa hidup ini adalah perjuangan. Setidaknya kita bisa merasakan bahwa di negeri ini masih banyak yang perlu kita lakukan. Juga di kota yang kami singgahi kini. Manna Kota Kenangan.
   
 Manna, 31 Oktober 2013

    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...