There is
difference between KNOWING the path and WALKING the path
[Morpheus – The Matrix Revolution]
[Morpheus – The Matrix Revolution]
Umi dan Sahabat...
Adalah
berbeda antara orang yang hanya sekedar tahu
sebuah “jalan” dengan orang yang sepenuh perjuangan menapaki “jalan” tersebut.
Mengetahui saja tidak cukup tapi jauh lebih baik jika merealisasikan apa yang
kita tahu. Kita tahu shalat sunnah sebelum Shubuh itu fadhilahnya lebih utama
dari pada dunia dan seisinya. Tapi lebih utama lagi jika kita istiqomah
mengamalkannya. Kita tahu jalan dakwah itu kewajiban yang indah. Tapi lebih
berkah jika kita turut bergerak di dalamnya. Itulah kelemahan kita, sering
berilmu tapi belum maksimal dalam beramal.
Di dunia ini tak sedikit orang yang berpengetahuan.
Namun, dunia tidak jadi lebih baik hanya dengan itu. Dunia akan berubah ketika
kita melakukan sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan yang kita punya.
Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan :
“Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia. Hanya sedikit saja dari
mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit yang
ber-Islam. Dari mereka yang ber-Islam jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah.
Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka
yang berjuang, jauh sedikit lagi yang mau bersabar. Dan dari sedikit yang
bersabar itu, hanya sedikit saja yang sampai pada akhir perjalanan ”.
Kita tentu tak asing lagi dengan firman Allah berikut
ini : "Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. "(QS. 3:104)
Allah sudah menyebutkan akan termasuk golongan yang beruntung bagi
orang- orang yang menyeru dan berdakwah di jalan Nya. Kita tahu Allah Maha
Benar, janji-Nya adalah sebuah kepastian. Jika Allah katakan beruntung, pasti
akan beruntung. Tapi tidak semua dari kita mau dan sudah bergabung menjadi
bagian dari barisan orang–orang beruntung sebagaimana yang disebutkan-Nya
tersebut. Jadi, masihkah kita ragu untuk meniti jalan dakwah ini? Padahal Allah
telah menyampaikan pujianNya melalui ayat berikut yang seharusnya memantapkan
hati kita untuk tetap istiqomah :
“Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Kita akan masuk dalam
barisan khoiru ummah ketika bergabung
dalam barisan orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang
mungkar. Itu adalah janji Allah, dan sungguh janji Allah adalah benar.
Umi dan Sahabat ..
Menjadi bagian dari dakwah tentulah bukan hal yang mudah. Ujian, cobaan,
cacian, hinaan, dan godaan untuk tidak istiqomah datang sepanjang waktu.
Menguji hampir setiap hari dan setiap kali. Rasa takut pasti akan dialami. Maka
bagi orang–orang beruntung yang telah memilih menjadi bagian dari dakwah,
meraka punya senjata ampuh untuk meneguhkan hati dan membangkitkan kembali
semangat mereka.
Sudah seharusnya motivasi dari Rabb tercinta ini menjadi pelecut bagi
semangat kita untuk tetap berjuang menapaki jalan ini : “Dan janganlah kamu (merasa)
lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya)
jika kamu orang beriman ” (QS. Ali Imron 139)
Berbahagialah bagi jiwa-jiwa yang telah memilih menafkahkan diri, harta
dan jiwanya pada dakwah demi tegaknya kembali Izzah Islam wal muslimin. Dengan
Al Qur’an dan Sunnah sebagai landasan bergeraknya, bagi merekalah kemenangan
yang agung, "(Yaitu) kamu beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di
dalam syurga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang
lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
(waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
beriman." (QS As Shaff 11-13)
Umi dan Sahabat..
Semangat
dakwah ini harus terus mewarnai hari-hari kita, terlebih di bulan suci ini. Bulan Ramadhan adalah kesempatan
yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal
spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan adalah bulan
bonus dimana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka di bulan inilah
kesempatan kita untuk menebar kebaikan sebanyak mungkin, untuk menyambut dan
mengisinya dengan optimal. Di bulan ini terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api
neraka. Dan itu merupakan kemenangan yang membahagiakan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia
itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Rasulullah menyambut bulan
Ramadhan dengan penuh perasaan bahagia dan suka-cita. Beliau ingatkan para
sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal.
Diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di harapan para
sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang
agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada
seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan
qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya
dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan
barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan
tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran
itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana
rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang
berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya
diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi
pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua
kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi
pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk
air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya
ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa
meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka.
Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada
kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan
kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya;
yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari
neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya
minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam
surga.” (Ibnu
Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Para sahabat dan salafus-shalih senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan Ali datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
Diriwayatkan Anas bin Malik bahwa para sahabat Nabi
saw ketika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta merta meraih mushaf mereka
dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat harta mereka agar yang lemah
menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Para gubernur
memanggil tawanan, barangsiapa yang meski dihukum segera mereka dihukum atau
dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk melunasi apa yang menjadi
tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak mereka. Sampai ketika mereka
melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi dan I’tikaf.”
Banyak membaca Al-Qur’an adalah
salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka menyambut
Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Bersedekah
dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan kewajiban
sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi
hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah
di bulan suci ini. Bukan dengan kegiatan fisik dan materi yang mereka siapkan,
namun hati, jiwa, dan pikiran yang mereka hadapkan kepada Allah. Bukan sibuk
dengan pakaian baru dan beragam makanan untuk persiapan lebaran yang mereka
siapkan, namun semua makanan rohani dan pakaian takwa hingga mendapatkan janji
Ramadhan.
Ibnu Mas’ud Al-Ghifari
menceritakan,
“Aku mendengar Rasulullah
saw –suatu hari menjelang Ramadhan – bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa
itu Ramadhan tentu umatku akan berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”
Umi dan Sahabat..
Marilah kita
singsingkan lengan baju untuk mengisi Ramadhan dengan sebanyak mungkin
kebajikan, Sebisa mungkin kita berbagi meski sekedar ilmu yang kita punya.
Kalaupun kita berlebih pada harta maka keutamaan bagi kita untuk meringankan
beban sesama. Mari kita berbagi pada yang lebih membutuhkan. Kurangi hal-hal
yang sia-sia, sambung tali silaturahmi yang terputus, Semoga Allah meridloi
setiap langkah kita. Amiin. Kita tidak tahu apakah kita juga akan mendapati
bulan suci ini tahun depan ataukah kita mendapatinya menjadi Ramadhan yang
terakhir bagi kita. Wallahu a’lam.
***************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar