Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru kemarin hari Jum'at ternyata sudah bertemu kembali dengan Jum'at. Dalam satu hadits riwayat Tirmidzi dikatakan : Tidak akan terjadi kiamat, sehingga waktu terasa pendek, maka setahun dirasakan seperti sebulan. Sebulan dirasakan seperti sepekan, sepekan dirasakan seperti sehari dan sehari dirasakan seperti satu jam, dan satu jam dirasakan seperti kilatan api. Terlepas kapan kiamat itu akan terjadi hanya Allah yang tahu. Namun, yang harus kita sama sadari adalah, pedang itu telah menggilas kita.
Mungkin karena keletihan sehari-hari akibat rutinitas atau karena kesibukan yang tiada habisnya. Terkadang kita baru menyadari bahwa usia kita makin menua. Anak-anak telah beranjak dewasa. Padahal, memori masa kecil itu masih lekat membayang dalam benak kita. Masa dimana kita bermain bersama teman kecil kita tanpa beban dan penuh senda gurau. Masa remaja yang penuh warna, bersepeda bersama teman-teman SMP ke sekolah membelah tanah persawahan nan hijau berselimut sejuknya embun pagi. Belajar berorganisasi bersama teman-teman dengan seragam abu-abu, camping, hiking, mountaineering, seperti baru kemarin sore kita lakukan. Nyatanya uban dah mulai tumbuh subur, usiapun hampir memasuki kepala empat. Ya Rabb..
Benarlah kiranya apa yang disampaikan Hasan Al Basri, Semoga Allah merahmatinya. Bahwa manusia sejatinya hanyalah kumpulan hari-hari. Tatkala hari hilang maka hilanglah sebagian dari diri kita. Bahkan karena pentingnya waktu jua maka Allah bersumpah demi waku. Agar kita berhati-hati dengan waktu. Sering kali ia berlalu begitu saja tanpa torehan makna. Berapa lama lagi yang kita butuhkan untuk menyadarinya. Padahal dia akan habis bersama habisnya bagian dari diri. Dan ketika waktu itu habis tidak ada lagi yang mampu kita perbuat. Tak bermakna lagi apa itu relativitas waktu. Karena senyatanya waktu itu ada batasnya.
Sebagai hamba Rabbnya, sepatutnya kita sejenak merenung dengan peringatanNya : "Dan demi waktu..", Allah menjadikan 'Asr untuk sumpahNya maka ini bukanlah hal yang main-main. "Sungguh manusia itu dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta yang nasehat menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran." Karenanya tak ada lagi cara selain menetapi perintahNya karena waktu kita, hari-hari kita semua menjadi hak preogratif Allah. Kita tak mampu mengundurnya dan kita tak mampu memajukannya.
Kita tak pernah tahu kapan bagian dari diri ini akan habis. Cukuplah banyaknya kematian mendadak di sekeliling kita menjadi pelajaran berharga karena sesungguhnya sebaik-baik nasihat adalah kematian. Pernahkah kita berpikir, sedang apa ruh mereka yang telah dipanggil Allah saat ini. Dan apa yang akan terjadi pada kita kelak? SubhanaAllah, hanya belas kasih Allah yang kita harapkan. Hanya syafaat kekasih kita Rosulullah yang kita nantikan. Masihkah kita berani menyombongkan dunia kita. Ketika ternyata semuanya adalah fana kecuali yang kita belanjakan di jalanNya juga amal-amal yang mau menjadi teman kita di alam selanjutnya.
Bagaimana halnya dengan berita yang Allah sampaikan di QS Al Mu'minun ayat 99-10 : "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : "Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia). Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Juga berita yang Allah sampaikan di melalui Quran Surat Munafiqun ayat 10 "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian itu datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."
Marilah kita segera berbenah diri, saling menasehati untuk kebajikan. Bermedsoslah sewajarnya, bermain gamelah secukup untuk rehat dari kelelahan bekerja. Teruslah berbuat baik sekalipun orang tidak berbuat baik padamu. Teruslah menebar kebajikan sebagaimana pohon kebaikan yang kita lempar dengan batu namun memberikan kita buah yang ranum. Teruslah berbenah karena kita tak pernah tahu kapan kumpulan hari itu akan habis masanya. Teruslah mendirikan shalat karena dialah amalan yang akan Allah tanyakan sebelum amal yang lain. Teruslah bersedekah karena ia akan meredam kemurkaan Allah dan akan menjadi jariyah yang mengalir ketika kita tak mampu lagi beramal. Teruslah membaca Al quran karena dia adalah penerang di alam kubur. Teruslah beristiqomah dalam kebaikan hingga Allah punya alasan untuk membelaskasihani kita. Luruskanlah niat-niat kita karena ia adalah inti dari amal. Lillahitaála yang akan menyampaikan amalan itu pada Rabbnya. Jauhkan diri dari kesia-siaan karena waktu kita tak mungkin kembali. Bagaimana halnya ketika nanti Allah tanyakan pada kita, waktumu kamu gunakan untuk apa? Bermain game? Umurmu kamu habiskan untuk apa? Bermain-main. Alangkah sedih dan meruginya kita kala itu karena tak ada lagi waktu untuk kembali memperbaiki amal-amal kita. Wallahua'lam bishowab..
Semoga Allah jadikan sebaik-baik umur kita adalah ujungnya, sebaik-baik amal adalah akhirnya dan sebaik-baik hari adalah saat bertemu denganNya.. Aamiin Ya Rabb..
Taman, 11 November 2021



