Rabu, 09 Oktober 2013

SENJA






Falaa uqsimu bisysyafaq.
“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja. “(QS. Al Insyiqaq :16)
Senja, ya suatu waktu yang sangat aku rindui. Ada semacam ‘Anchor’ yang selalu mengingatkanku pada Robbku ketika waktu itu tiba. Terlebih ketika aku menyaksikan perlahan-lahan sang surya tenggelam diiringi “syafaq” cahaya merah yang memukau. Sepertinya dibalik cahaya itu akan ada kehidupan lain yang kekal. Ada semacam rasa pilu atau entah apa di hati ketika cahaya itu ada di hadapanku. Ada lintasan-lintasan kehidupan yang telah kulalui dari kecil hingga kini yang kemudian berkelebat seolah slide yang sedang diputar.
Ya Robb.. alangkah pendeknya hidup di dunia ini. Bayangan kematian yang pasti akan datang itu kembali terbayang. Semoga ini menjadi sebuah dzikrul maut yang akan menuntunku pada kehati-hatian dalam menjalani hidup. Semoga kelak jika saat itu datang, Engkau mematikanku dalam keadaan Husnul Khatimah dan memberiku tempat terbaik di sisiMu. Amiin.
Cahaya merah, ya.. sungguh suatu waktu yang menimbulkan kerinduanku padaMu. Bahkan Engkau menjadikannya untuk bersumpah. Bahwa, Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja…. Sungguh akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud, bahkan orang kafir mendustakannya.
Inilah yang harus menjadi pengingat, bahwa janji Allah adalah benar. Kita diciptakanNya dan pasti akan kembali padaNya. Ini adalah kepastian. Bahwa hidup dimulai dengan B, Born, kemudian berlanjut pada C, challenge, dan diakhiri dengan D, Die. Tapi setelah D masih berlanjut ke E, Eternity. Setidaknya ketika kita memahami ini kita akan tahu bahwa kita diciptakan tidak sekedar untuk bermain-main. Tapi kita membawa misi, khalifatul ardhi. Ya, manusia adalah khalifah dimuka bumi. Dan semoga kita tidak menjadi seperti apa yang disangkakan para malaikat ketika dikabarkan oleh Allah pada mereka tentang penciptakan manusia, yaitu pembuat kerusakan di muka bumi.
Jadi hidup ini tetaplah harus berarti. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat pada orang lain maka setidaknya kita tidak memberi  kemudharatan pada orang lain maupun makhluk lain. Bukankah setiap kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan indera kita akan menjadi saksi apa yang telah kita lakukan selama di dunia? Dan mereka adalah saksi-saksi yang benar. Akankah kita memperoleh pembelaan sehingga menjadikan catatan kita diberikan dari sebelah kanan (Al Insiqaq:7) ataukah dari sebelah belakang? Ini adalah pilihan.
Semoga catatan pagi ini akan menjadikan dzikirku padaMu. Bahwa hidup ini tidaklah sekekal kehidupan akhirat. Semoga di waktu yang pendek ini kita cukup untuk mencari bekal bagi kehidupan yang kekal. Meskipun hanya ridlo Allah semata yang mejadikan kita berada di JannahNya. Atakah kita merasa bahwa amal ibadah kita akan mampu mengapling syurga? Rasanya lirik nasyid “ Wahai Tuhan, kutak sanggup ke neraka-Mu, namun tak pula aku layak ke syurga-Mu, ini telah menjadi gambaran bagi setiap kita. Hanya belas kasih Allahlah yang menjadikan kita bias mencapai JannahNya. Wallahua’lam bishowab.

Manna, 8 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...