Falaa uqsimu bisysyafaq.
“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja. “(QS. Al
Insyiqaq :16)
Senja, ya suatu waktu yang sangat
aku rindui. Ada semacam ‘Anchor’ yang
selalu mengingatkanku pada Robbku ketika waktu itu tiba. Terlebih ketika aku
menyaksikan perlahan-lahan sang surya tenggelam diiringi “syafaq” cahaya merah yang memukau. Sepertinya dibalik cahaya itu
akan ada kehidupan lain yang kekal. Ada semacam rasa pilu atau entah apa di
hati ketika cahaya itu ada di hadapanku. Ada lintasan-lintasan kehidupan yang
telah kulalui dari kecil hingga kini yang kemudian berkelebat seolah slide yang
sedang diputar.
Ya Robb.. alangkah pendeknya
hidup di dunia ini. Bayangan kematian yang pasti akan datang itu kembali
terbayang. Semoga ini menjadi sebuah dzikrul maut yang akan menuntunku pada
kehati-hatian dalam menjalani hidup. Semoga kelak jika saat itu datang, Engkau
mematikanku dalam keadaan Husnul Khatimah dan memberiku tempat terbaik di
sisiMu. Amiin.
Cahaya merah, ya.. sungguh suatu
waktu yang menimbulkan kerinduanku padaMu. Bahkan Engkau menjadikannya untuk
bersumpah. Bahwa, Maka Aku bersumpah demi
cahaya merah pada waktu senja…. Sungguh akan kamu jalani tingkat demi tingkat
(dalam kehidupan), Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Quran dibacakan
kepada mereka, mereka tidak mau bersujud, bahkan orang kafir mendustakannya.
Inilah yang harus menjadi
pengingat, bahwa janji Allah adalah benar. Kita diciptakanNya dan pasti akan
kembali padaNya. Ini adalah kepastian. Bahwa hidup dimulai dengan B, Born,
kemudian berlanjut pada C, challenge, dan diakhiri dengan D, Die. Tapi setelah
D masih berlanjut ke E, Eternity. Setidaknya ketika kita memahami ini kita akan
tahu bahwa kita diciptakan tidak sekedar untuk bermain-main. Tapi kita membawa
misi, khalifatul ardhi. Ya, manusia adalah khalifah dimuka bumi. Dan semoga
kita tidak menjadi seperti apa yang disangkakan para malaikat ketika dikabarkan
oleh Allah pada mereka tentang penciptakan manusia, yaitu pembuat kerusakan di
muka bumi.
Jadi hidup ini tetaplah harus
berarti. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat pada orang lain maka setidaknya
kita tidak memberi kemudharatan pada
orang lain maupun makhluk lain. Bukankah setiap kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Bahkan indera kita akan menjadi saksi apa yang telah kita lakukan selama di
dunia? Dan mereka adalah saksi-saksi yang benar. Akankah kita memperoleh
pembelaan sehingga menjadikan catatan kita diberikan dari sebelah kanan (Al
Insiqaq:7) ataukah dari sebelah belakang? Ini adalah pilihan.
Semoga catatan pagi ini akan
menjadikan dzikirku padaMu. Bahwa hidup ini tidaklah sekekal kehidupan akhirat.
Semoga di waktu yang pendek ini kita cukup untuk mencari bekal bagi kehidupan
yang kekal. Meskipun hanya ridlo Allah semata yang mejadikan kita berada di
JannahNya. Atakah kita merasa bahwa amal ibadah kita akan mampu mengapling
syurga? Rasanya lirik nasyid “ Wahai Tuhan, kutak sanggup ke neraka-Mu, namun
tak pula aku layak ke syurga-Mu, ini telah menjadi gambaran bagi setiap kita.
Hanya belas kasih Allahlah yang menjadikan kita bias mencapai JannahNya.
Wallahua’lam bishowab.
Manna, 8 Oktober 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar