Kamis, 14 November 2013

Ketika Allah Mengirim Cinta




    Written By Titin Yusuf on Selasa, 19 Maret 2013 | 17.00

Tidak harus kau!
Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang
(Sakti Wibowo : Sepasang Merpati Berkalung Safir)

Lupakan. Lupakan cinta yang tidak akan bersemi di pelaminan. Demikian, ustadz Anis Matta menulis di Serial Cinta miliknya. Sebab tidak ada cinta tanpa pernikahan. Cinta tanpa temu fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Mencintai itu menikahi. Itulah yang beliau sampaikan.


Masih ingat kisah cinta Nurul dan Fahri dalam Ayat–ayat Cinta nya Kang Abik. Atau mungkin kisah cinta antara Tiara dan Fadhil di Ketika Cinta Bertasbih lebih dikenal. Bukan hanya karena ditulis oleh novelis yang sama yakni Habiburrahman El Shirazy. Namun pesan moral yang coba penulis sampaikan pada para pembacanya. Tak selamanya ujung akhir cinta itu selalu indah. Tak jarang mimpi para pecinta harus luruh, tunduk pasrah pada kehendak takdir Yang Kuasa. Yang mungkin ceritanya bakal jauh lebih indah dari yang mereka sangka.
Sebagaimana terjadi pada banyak wanita, Nurul dan Tiara mungkin tak memilih. Namun dalam hidup selalu ada pilihan, Menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Salim A. Fillah menyebut, yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban. Dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta, beliau menggubah selarik puisi.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu… aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana… tinggi menggapai syurga

Keduanya dalam kondisi yang sama. Menunggu detik-detik menjelang akad nikah dengan lelaki yang tak mereka cintai. Keduanya berkeras bahwa tidak akan mudah atau bahkan tidak akan bisa memberikan hati yang sudah diisi dan ditempati oleh orang lain. Keduanya tunduk pasrah tanpa upaya dan menjadikan cinta sebagai penguasa hingga tanpa sadar merasa sulit menerima yang lebih indah, lebih halal dan lebih agung bagi mereka.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah mengutip judul buku yang indah dari Ukhti Izzatul Jannah, Karena Cinta harus Diupayakan. Beliau mengungkapkan bahwa Allah mengajari kita untuk mengupayakan cinta. Seperti cinta kita padaNya yang tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dengan iman. Iman datang karena hidayah. Hidayah datang karena menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada ikhtiar. Jika cinta pada yang Maha Agung adalah buah dari ikhtiar. Maka, mengapa kita tak mengupayakan cinta kita pada dia yang dihalalkan untuk kita. Dan justru lebih memilih terbelenggu oleh cinta yang tak dihalalkanNya. Astaghfirullah …..
Beliau juga menambahkan, sering ia mengatakan pada para ikhwan, “Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya, malah kalau bisa sebanyak-banyaknya. Tapi harus jadi gentle dan sportif!, Kalau ada ikhwan atau lelaki lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang angan pengisi sepi… jangan menangisi nasib diri! Persilahkan dengan gagah bahkan… bantu dengan segenap pengorbanan jika perlu!“
Begitupun pada para akhwat hal yang sama berlaku “Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang yang berbeda nama, yang baik akhlaqnya dan agamanya datang… sedangkan antum tidak memiliki alasan syar’i untuk menolak… jangan pernah sekali-kali antum menghindar…”
Pada akhirnya jika boleh dikata sebagai mana syair milik Sakti Wibowo yang dikutip diatas “Tidak harus kau… Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang .” Maka teruntuk para ukhti… tak harus dengan sebuah nama yang sudah tersimpan rapi dalam hati. Tapi amat baiklah jika memilih sebuah nama yang menghampiri anti dengan gagah berani. [Kembang Pelangi]
 sumber : www. bersamadakwah.com

Rabu, 13 November 2013

10 wasiat hasan albana




 
1- Jika terdengar azan,maka segeralah bangun untuk menunaikan solat berjemaah walau bagaimana sekalipun keadaan seseorang itu.
2- Perbanyakkan bacaan al-Quran,selalu membuka kitab2 untuk menambah ilmu, pergi ke majlis2 Ilmu, perbanyakkan zikrullah dan jangan membuang masa dalam perkara yang tidak mendatangkan faedah.
3- Berusaha untuk bertutur dalam bahasa Arab yang Fushah kerana Bahasa Arab yang betul (Fushah) adalah lambang(syiar) Islam.
4- Janganlah bertengkar walau dalam apa jua keadaan sekalipun kerana pertengkaran yang kosong tidak mendatangkan apa-apa faedah.
5- Janganlah terlalu banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah sentiasa sahaja akan tenteram dan tenang.
6- Janganlah terlalu banyak bergurau kerana orang islam yang sedang berjuang itu tidak mengerti erti bergurau melainkan bersungguh2 dalam setiap perkara.
7- Janganlah bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh pendengar kerana percakapan yang nyaring itu adalah suatu perbuatan yang sia-sia malah menyakiti hati orang.
8- Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa- apa yang memberi kebajikan.
9- Berkenal-kenalanlah dengan setiap Muslim yang ditemui kerana asas gerakan dakwah ialah berkenal-kenalan dan berkasih-sayang.
10- Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu gunakanlah masa dengan sebaik-baiknya dan ringkaskanlah perlaksanaannya.

Selasa, 12 November 2013

Di Balik Makna Asyhaduan Laa Ilaha Illallah Wa Asyhaduanna Muhammadur Rosulullah


       

       Berapa kali dalam sehari kita berikrar Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah? Minimal 9 kali pada setiap tahhiyat sholat wajib kita. Akan berlebih ketika kita melakukan sholat sunnahnya. Lalu apa kita sudah memahami makna dari apa yang kita ucapkan?
         Dalam sebuah riwayat Rosulullah pernah mengumpulkan keluarganya dari Bani Hasyim. Ketika semua telah berkumpul maka Rosulullah menanyakan " Maukah Kalian Aku tunjukan satu kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai Jazirah Arab?" Kemudian Abu Jahal dengan lantang menjawab, "Jangankan satu, seratus pun aku mau." Lalu Rosulullah mengatakan, " Ucapkanlah  Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah."
      Apa yang disampaikan Rosulullah tentu benar adanya. Kita tidak akan mengingkari karena beliaulah orang paling jujur hingga memperoleh gelaran Al Amiin dari kalangan kaum Qurays.  Namun kenapa sampai sekarang umat islam sudah berjumlah milyaran tapi Islam belum menguasai dunia. Bahkan jazirah Arabpun belum dikuasai apalagi dunia??
     Ada makna-makna di balik kalimat tauhid ini yang belum kita fahami. Kita hanya sebatas mengucapkannya melalui lisan kita tapi kita tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. 

Laa Ilaha Illallah,
         Kalimat ini diawali dengan kata Laa yang merupakan peniadaan. Kalimat larangan yang diawali dengan peniadaan maka menunjukkan bahwa larangan ini bukanlah larangan biasa. Larangan yang benar-benar ditekankan untuk tidak menyembah selain kepada Allah. Ini pulalah yang kemudian ditegaskanNya dalam Quran Surat An Nisa : 48

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

         Peringatan inilah yang harus kita waspadai. Kesyirikan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Baik kesyirikan Uluhiyah maupun kesyirikan Asma' wa Sifat. Seseorang yang telah berikrar atau bersumpah bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah memiliki konsekuensi yang besar atas apa yang dia ucapkan. Dia tidak boleh menjadikan Ilah-Ilah yang lain sebagai sesembahannya, baik itu hartanya, suami/istrinya, anaknya, jabatannya, pangkatnya/kedudukannya, ataupun kecintaan lainnya. Tidak ada yang boleh menyamai kedudukan Allah dalam hal menuhankannya.
         Kalau pun kita setiap hari sudah bersyahadat tapi kecintaan kita pada dunia (wanita, harta, tahta dan anak-anak) masih lebih besar dari kecintaan kita padaNya maka tentu ada yang harus kita introspeksi.
         Sejatinya semua yang Allah berikan hanyalah sarana kita untuk menghamba padanya. Semua hanya titipan dari Allah. Jadi layakkah barang titipan itu lebih kita cintai dari pemiliknya? Tentu tidak. Orang-orang yang bisa memahami makna ini tentu tidak akan susah hidupnya. Karena hanya kepadaNya ia bergantung. Apapun yang terjadi pada dirinya tentu semua ketentuan Allah dan hanya kepadaNya semua urusan dikembalikan.

Asyhaduanna  Muhammadur Rosulullah
         "Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Jadi selain bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah maka kita juga bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. So.. ini merupakan ungkapan janji kita bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Lagi-lagi ini juga bukan sekedar janji belaka, tapi disini pun mengandung konsekuensi sebagaimana Laa ilaha illallah tadi menuntut konsekuensi maka demikian pula dengan kesaksian yang ke dua. Kalimat ini memberikan kosekuensi agar kita mengikuti apa yang diajarkan Rosulullah SAW, baik apa yang beliau katakan, lakukan maupun yang beliau iyakan atau beliau tidak iyakan. Wah kok bahasanya rumit ya..
       Contoh mudahnya begini, misalnya berdusta, ini tidak ada dalam tuntunan beliau kecuali berbohong yang dianjurkan untuk kebaikan, jadi kalau sudah bersyahadat mestinya kita bisa menjaga diri dari kata-kata dusta. Contoh lainnya misalnya berzina, selain Allah memang memerintahkan untuk menjauhinya di  Qur’an surat Al Isra’ ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk.”, maka Rosulullah pembawa risalahpun sangat mewanti-wanti kita untuk menjauhinya. Mendekat saja tidak boleh apalagi melakukannya. Nah itu dua contoh simpelnya yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sebagai konsekuensi dari syahadat kita kepada Allah. Jadi Rosulullah mestinya menjadi qudwah alias teladan dalam menjalani hidup.

Arti Penting Kalimat Syahadat

1. Pintu Masuk Ke Dalam Islam
Ibarat bangunan, maka untuk masuk dalam bangunan Islam haruslah melalui pintu yaitu syahadat. Tanpa mengucapkan syahadatain maka amal yang dikerjakan seseorang itu bagaikan debu yang beterbangan.atau fatamorgana yang terlihat tapi tidak ada. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahaadatain. Syahaadatain menjadi pembeda manusia kepada muslim dan kafir.
Secara fitrahnya manusia adalah Islam. Mereka telah bersyahadat dalam masa penciptaan. Hal ini diterangkan dalam QS. 7:172. ketika masih di alam arwah sesungguhnya setiap kita telah diambil janji oleh Allah "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) ". Manusia telah bersyahadah Rubbubiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahaadah Risalah di dunia. Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah SWT. Ini perlu disempurnakan di dunia dengan membaca syahaadatain sesuai ajaran Islam.


2. Intisari ajaran Islam.
QS. 51:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.
Yang menjadi inti dari ajaran Islam sesungguhnya adalah kalimat Tauhid, pengesaan terhadapAllah. 
Inilah yang terkandung dalam Kalimat Syahadat. Bahwa Allah haruslah menjadi satu-satunya Ilah yang berhak disembah, tidak ada selainNya. Ajaran ini menjadi inti dari setiap risalah yang dibawa oleh setiap nabi dari Adam sampai Muhammad SAW.

3. Dasar-dasar perubahan menyeluruh. 
Seseorang yang telah berikrar Laa ilaha illallah maka menjadi tonggak 

4. Hakikat dakwah para rasul.
Tidak ada satu nabipun yang tidak mengajarkan pada umatnya untuk menyeru kepada selain Allah, 
tidak Ibrahim, Musa, Sulaiman, pun juga Isa. Semua nabi menyeru agar kita hanya menyembah
kepada Allah saja. 

5. Keutamaan yang besar.


Selasa, 29 Oktober 2013

DARINYA KAMI BELAJAR

           


Manna adalah kota ketiga yang kami singgahi setelah Mataram dan Sidoarjo. Kota ini berada di pinggir pesisir selatan Sumatera, cukup kecil jika dibandingkan dengan dua kota yang kami tinggali sebelumnya. 
Mataram, ketika kami datang untuk pertama kalinya belumlah seramai sekarang. Jalanan masih sedikit sepi namun bluebird taxi sudah menjadi moda tranportasi yang lumrah disana. Mungkin karena keindahan alamnya sehingga saat itu mataram sudah menjadi tujuan wisata kedua setelah Bali. Turis mancanegara menjadi pemandangan biasa di sekitar kawasan wisatanya. Senggigi adalah salah satu obyek wisata yang menawarkan pesona alam dengan pantai pasir putihnya dan lokasi yang paling dekat untuk dijangkau dari kota Mataram. Alamnya masih asri dan indah, penduduknya pun cukup ramah. Ada cidomo(cikar-dokar-mobil) yang menjadi transportasi tradisional yang beroperasi dengan kuda sebagai motor penggeraknya. Kantor-kantor pemerintahan memiliki desain eksterior yang hampir sama. Bentuknya mengadopsi bentuk rumah adat suku sasak. Perkampungan suku sasak asli pun masih bisa dijumpai di lereng rinjani. Ada situs adat yang masih asli yang boleh dikunjungi di daerah senaru. Ini adalah pengalaman yang mengagumkan, yang terkadang menggelitik hati untuk menyinggahinya kembali. Terlebih disinilah saya dipertemukan dengan orang yang kini menjadi ayah dari anak-anak saya.
     Sementara Sidoarjo, kota ini cukup besar karena menjadi kota satelitnya Surabaya. Ibarat Jakarta, maka Sidoarjo adalah botabek-nya Surabaya. Budaya blak-blakan alias terbuka menjadikan kami belajar keterbukaan dari kota ini. Orang Sidoarjo-Surabaya hampir memiliki kemiripan karakter. Terbuka, biasa dan apa adanya. Berbeda dengan karakter saya yang sedikit tertutup karena terbiasa memakai budaya Jawa-Jogja yang penuh unggah-ungguh dan sedikit feodal. Dari sinilah saya belajar banyak, saya belajar memahami karakter dan memahami perbedaan. Kota ini jugalah yang mewarnai perjalanan hidup kami . Di kota ini dua buah hati kami terlahir sebagai arek sidoarjo. Kota yang memberi kesan tersendiri di hati saya karena saya hampir menyinggahinya selama delapan tahun dan terpisah dengan suami karena dia harus mutasi sementara saya baru menginjak semester ke-3 tugas belajar. Di kota ini juga saya belajar untuk hidup mandiri terpisah jauh dari suami selama tiga tahun lamanya. Rupanya beginilah rasanya nyonya-nyonya ditjen perbendaharaan yang hidupnya tidak selalu bersama suami. Setelah delapan tahun menikmatinya, saya dan anak-anak pun harus kembali pada kewajiban. Mengikuti kembali ke kota tempat tugas suami sekaligus kembali lagi kepada ditjen perbendaharaan yang telah bertahun-tahun saya tinggalkan. Ya, kami harus berangkat ke Manna.
            Manna, kota yang dulu saya jadikan bahan olokan ketika salah seorang adik kelas yang magang di Sidoarjo memperoleh penempatan kesana. "Penempatan di Manna atau dimana, dik?" Rupanya saya pun harus berangkat ke kota ini. Ya, kota yang kecil dan sederhana. Kecil karena kalau kita memutarinya mungkin tidak sampai setengah jam sudah kembali ke posisi semula. Sederhana, karena di kota ini kita bisa belajar hidup sederhana, tanpa keramaian mall atau keramaian kota pada umumnya. Namun begitu kota ini memiliki berbagai keunikan.
Kota ini penduduk aslinya adalah suku serawai dan pesisir. Namun suku padang dan jawa pun banyak yang merantau ke kota ini. Demikian juga suku pasemah dari Sumatera Selatan. Disini juga banyak persatuan-persatuan suku salah satunya yang tergolong besar adalah PJB yaitu Persatuan Jawa Bengkulu. Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Bahasa Serawai. Sebagaian kata-katanya ada sedikit kemiripan dengan bahasa Indonesia namun untuk a menjadi au, seperti kata kota dalam bahasa serawai disebut kutau. Anak saya yang semula sangat mahir bahasa suroboyoan, tak lama setelah masuk ke kota ini sudah memiliki banyak kosa kata serawai. Anak-anak memang mengagumkan. Sepertinya bukan suatu kesalahan ketika kami doktrin mereka bahwa "kalian anak seribu pulau". Karena kami harapkan mereka menjadi anak-anak bermental pejuang yang siap mengiringi kemana orangtuanya dipindahtugaskan. Jadi tidak ada rengekan dan tidak ada tangisan ketika mall yang biasanya bisa dijangkau dalam hitungan menit kini hanya hutan yang bisa dijangkau dalam hitungan menit. 
            Selain menawarkan wisata alam pantainya yaitu pantai Pasar Bawah, Muara Kedurang juga pantai-pantai di selatan Manna yang berpasir putih, Manna juga menawarkan beberapa peninggalan sejarah seperti bunker-bunker Jepang dan Meriam Honisuit peninggalan Inggris. 
       Sama seperti kota-kota sebelumnya yang memberi kenangan, sebagaimana semboyannya Manna Kota Kenangan, kota ini pun memiliki arti khusus bagi kami. Disini kami memiliki banyak Saudara yang dipertemukan dalam jalinan ukhuwah. Disini juga Tuhan memberikan kembali limpahan rizqinya dengan lahirnya puteri kami yang ketiga. Si kecil yang lahir di kota kenangan.  
Tahun ini memasuki tahun keenam suami bertugas disini. Kami pun harus siap-siap berkemas lagi. Entah ke kota mana lagi akan kami bawa bahtera ini. 
Berpindah dari satu kota ke kota lain sejatinya mengajari kami untuk menjadi laksana air. Memiliki fleksibilitas sesuai wadah yang melingkupinya.  Ini adalah salah satu hikmah yang bisa kami petik sebagai seorang insan perbendaharaan. Kami lebih melihat tuntutan tugas untuk terus berotasi dari satu daerah ke daerah lain ini dari sisi positifnya. Dengan memandang permasalahan dari sisi positif akan membuat kita bisa terus bersyukur. Pun ketika kontrakan habis ini akan membawa kita untuk 'dzikrul maut' atau mengingat mati. Bahwa kita hidup pun menjalani kontrak, ada waktunya untuk habis masanya. Bedanya ketika rumah kontrakan habis masa maka kita bisa memperpanjang namun tidak demikian dengan usia kita. Tidak ada masa perpanjangan. Karenanya hidup kita harus berarti, di belahan bumi mana pun itu. Tidak ada lagi waktu untuk meratapi nasib, yang ada adalah menapaki setiap jengkal dan setiap hela nafas yang masih diberikanNya. 
            Mungkin ini menjadi jalan hidup bagi kami insan perbendaharaan untuk terus menyusuri pelosok negeri. Tugaslah yang menuntut kami untuk menjalani semua ini. Satu yang menjadi motivasi terbesar bagi kami bahwa kami hidup memang sebagai pengembara, dimana bumi dipijak disitulah tanah Allah. Hidup harus terus berjalan. Kalau sekedar kenyamanan yang kami cari, mungkin seharusnya bukan jalan ini yang kami tapaki. Namun darinya kami belajar bahwa hidup ini adalah perjuangan. Setidaknya kita bisa merasakan bahwa di negeri ini masih banyak yang perlu kita lakukan. Juga di kota yang kami singgahi kini. Manna Kota Kenangan.
   
 Manna, 31 Oktober 2013

    


Rabu, 09 Oktober 2013

SENJA






Falaa uqsimu bisysyafaq.
“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja. “(QS. Al Insyiqaq :16)
Senja, ya suatu waktu yang sangat aku rindui. Ada semacam ‘Anchor’ yang selalu mengingatkanku pada Robbku ketika waktu itu tiba. Terlebih ketika aku menyaksikan perlahan-lahan sang surya tenggelam diiringi “syafaq” cahaya merah yang memukau. Sepertinya dibalik cahaya itu akan ada kehidupan lain yang kekal. Ada semacam rasa pilu atau entah apa di hati ketika cahaya itu ada di hadapanku. Ada lintasan-lintasan kehidupan yang telah kulalui dari kecil hingga kini yang kemudian berkelebat seolah slide yang sedang diputar.
Ya Robb.. alangkah pendeknya hidup di dunia ini. Bayangan kematian yang pasti akan datang itu kembali terbayang. Semoga ini menjadi sebuah dzikrul maut yang akan menuntunku pada kehati-hatian dalam menjalani hidup. Semoga kelak jika saat itu datang, Engkau mematikanku dalam keadaan Husnul Khatimah dan memberiku tempat terbaik di sisiMu. Amiin.
Cahaya merah, ya.. sungguh suatu waktu yang menimbulkan kerinduanku padaMu. Bahkan Engkau menjadikannya untuk bersumpah. Bahwa, Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja…. Sungguh akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud, bahkan orang kafir mendustakannya.
Inilah yang harus menjadi pengingat, bahwa janji Allah adalah benar. Kita diciptakanNya dan pasti akan kembali padaNya. Ini adalah kepastian. Bahwa hidup dimulai dengan B, Born, kemudian berlanjut pada C, challenge, dan diakhiri dengan D, Die. Tapi setelah D masih berlanjut ke E, Eternity. Setidaknya ketika kita memahami ini kita akan tahu bahwa kita diciptakan tidak sekedar untuk bermain-main. Tapi kita membawa misi, khalifatul ardhi. Ya, manusia adalah khalifah dimuka bumi. Dan semoga kita tidak menjadi seperti apa yang disangkakan para malaikat ketika dikabarkan oleh Allah pada mereka tentang penciptakan manusia, yaitu pembuat kerusakan di muka bumi.
Jadi hidup ini tetaplah harus berarti. Kalaupun tidak bisa memberi manfaat pada orang lain maka setidaknya kita tidak memberi  kemudharatan pada orang lain maupun makhluk lain. Bukankah setiap kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan indera kita akan menjadi saksi apa yang telah kita lakukan selama di dunia? Dan mereka adalah saksi-saksi yang benar. Akankah kita memperoleh pembelaan sehingga menjadikan catatan kita diberikan dari sebelah kanan (Al Insiqaq:7) ataukah dari sebelah belakang? Ini adalah pilihan.
Semoga catatan pagi ini akan menjadikan dzikirku padaMu. Bahwa hidup ini tidaklah sekekal kehidupan akhirat. Semoga di waktu yang pendek ini kita cukup untuk mencari bekal bagi kehidupan yang kekal. Meskipun hanya ridlo Allah semata yang mejadikan kita berada di JannahNya. Atakah kita merasa bahwa amal ibadah kita akan mampu mengapling syurga? Rasanya lirik nasyid “ Wahai Tuhan, kutak sanggup ke neraka-Mu, namun tak pula aku layak ke syurga-Mu, ini telah menjadi gambaran bagi setiap kita. Hanya belas kasih Allahlah yang menjadikan kita bias mencapai JannahNya. Wallahua’lam bishowab.

Manna, 8 Oktober 2013

Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...