Kamis, 14 November 2013

Ketika Allah Mengirim Cinta




    Written By Titin Yusuf on Selasa, 19 Maret 2013 | 17.00

Tidak harus kau!
Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang
(Sakti Wibowo : Sepasang Merpati Berkalung Safir)

Lupakan. Lupakan cinta yang tidak akan bersemi di pelaminan. Demikian, ustadz Anis Matta menulis di Serial Cinta miliknya. Sebab tidak ada cinta tanpa pernikahan. Cinta tanpa temu fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Mencintai itu menikahi. Itulah yang beliau sampaikan.


Masih ingat kisah cinta Nurul dan Fahri dalam Ayat–ayat Cinta nya Kang Abik. Atau mungkin kisah cinta antara Tiara dan Fadhil di Ketika Cinta Bertasbih lebih dikenal. Bukan hanya karena ditulis oleh novelis yang sama yakni Habiburrahman El Shirazy. Namun pesan moral yang coba penulis sampaikan pada para pembacanya. Tak selamanya ujung akhir cinta itu selalu indah. Tak jarang mimpi para pecinta harus luruh, tunduk pasrah pada kehendak takdir Yang Kuasa. Yang mungkin ceritanya bakal jauh lebih indah dari yang mereka sangka.
Sebagaimana terjadi pada banyak wanita, Nurul dan Tiara mungkin tak memilih. Namun dalam hidup selalu ada pilihan, Menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Salim A. Fillah menyebut, yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban. Dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta, beliau menggubah selarik puisi.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu… aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana… tinggi menggapai syurga

Keduanya dalam kondisi yang sama. Menunggu detik-detik menjelang akad nikah dengan lelaki yang tak mereka cintai. Keduanya berkeras bahwa tidak akan mudah atau bahkan tidak akan bisa memberikan hati yang sudah diisi dan ditempati oleh orang lain. Keduanya tunduk pasrah tanpa upaya dan menjadikan cinta sebagai penguasa hingga tanpa sadar merasa sulit menerima yang lebih indah, lebih halal dan lebih agung bagi mereka.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah mengutip judul buku yang indah dari Ukhti Izzatul Jannah, Karena Cinta harus Diupayakan. Beliau mengungkapkan bahwa Allah mengajari kita untuk mengupayakan cinta. Seperti cinta kita padaNya yang tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dengan iman. Iman datang karena hidayah. Hidayah datang karena menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada ikhtiar. Jika cinta pada yang Maha Agung adalah buah dari ikhtiar. Maka, mengapa kita tak mengupayakan cinta kita pada dia yang dihalalkan untuk kita. Dan justru lebih memilih terbelenggu oleh cinta yang tak dihalalkanNya. Astaghfirullah …..
Beliau juga menambahkan, sering ia mengatakan pada para ikhwan, “Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya, malah kalau bisa sebanyak-banyaknya. Tapi harus jadi gentle dan sportif!, Kalau ada ikhwan atau lelaki lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang angan pengisi sepi… jangan menangisi nasib diri! Persilahkan dengan gagah bahkan… bantu dengan segenap pengorbanan jika perlu!“
Begitupun pada para akhwat hal yang sama berlaku “Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang yang berbeda nama, yang baik akhlaqnya dan agamanya datang… sedangkan antum tidak memiliki alasan syar’i untuk menolak… jangan pernah sekali-kali antum menghindar…”
Pada akhirnya jika boleh dikata sebagai mana syair milik Sakti Wibowo yang dikutip diatas “Tidak harus kau… Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang .” Maka teruntuk para ukhti… tak harus dengan sebuah nama yang sudah tersimpan rapi dalam hati. Tapi amat baiklah jika memilih sebuah nama yang menghampiri anti dengan gagah berani. [Kembang Pelangi]
 sumber : www. bersamadakwah.com

Rabu, 13 November 2013

10 wasiat hasan albana




 
1- Jika terdengar azan,maka segeralah bangun untuk menunaikan solat berjemaah walau bagaimana sekalipun keadaan seseorang itu.
2- Perbanyakkan bacaan al-Quran,selalu membuka kitab2 untuk menambah ilmu, pergi ke majlis2 Ilmu, perbanyakkan zikrullah dan jangan membuang masa dalam perkara yang tidak mendatangkan faedah.
3- Berusaha untuk bertutur dalam bahasa Arab yang Fushah kerana Bahasa Arab yang betul (Fushah) adalah lambang(syiar) Islam.
4- Janganlah bertengkar walau dalam apa jua keadaan sekalipun kerana pertengkaran yang kosong tidak mendatangkan apa-apa faedah.
5- Janganlah terlalu banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah sentiasa sahaja akan tenteram dan tenang.
6- Janganlah terlalu banyak bergurau kerana orang islam yang sedang berjuang itu tidak mengerti erti bergurau melainkan bersungguh2 dalam setiap perkara.
7- Janganlah bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh pendengar kerana percakapan yang nyaring itu adalah suatu perbuatan yang sia-sia malah menyakiti hati orang.
8- Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa- apa yang memberi kebajikan.
9- Berkenal-kenalanlah dengan setiap Muslim yang ditemui kerana asas gerakan dakwah ialah berkenal-kenalan dan berkasih-sayang.
10- Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu gunakanlah masa dengan sebaik-baiknya dan ringkaskanlah perlaksanaannya.

Selasa, 12 November 2013

Di Balik Makna Asyhaduan Laa Ilaha Illallah Wa Asyhaduanna Muhammadur Rosulullah


       

       Berapa kali dalam sehari kita berikrar Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah? Minimal 9 kali pada setiap tahhiyat sholat wajib kita. Akan berlebih ketika kita melakukan sholat sunnahnya. Lalu apa kita sudah memahami makna dari apa yang kita ucapkan?
         Dalam sebuah riwayat Rosulullah pernah mengumpulkan keluarganya dari Bani Hasyim. Ketika semua telah berkumpul maka Rosulullah menanyakan " Maukah Kalian Aku tunjukan satu kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai Jazirah Arab?" Kemudian Abu Jahal dengan lantang menjawab, "Jangankan satu, seratus pun aku mau." Lalu Rosulullah mengatakan, " Ucapkanlah  Laa ilaha illallah Muhammadur Rosulullah."
      Apa yang disampaikan Rosulullah tentu benar adanya. Kita tidak akan mengingkari karena beliaulah orang paling jujur hingga memperoleh gelaran Al Amiin dari kalangan kaum Qurays.  Namun kenapa sampai sekarang umat islam sudah berjumlah milyaran tapi Islam belum menguasai dunia. Bahkan jazirah Arabpun belum dikuasai apalagi dunia??
     Ada makna-makna di balik kalimat tauhid ini yang belum kita fahami. Kita hanya sebatas mengucapkannya melalui lisan kita tapi kita tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. 

Laa Ilaha Illallah,
         Kalimat ini diawali dengan kata Laa yang merupakan peniadaan. Kalimat larangan yang diawali dengan peniadaan maka menunjukkan bahwa larangan ini bukanlah larangan biasa. Larangan yang benar-benar ditekankan untuk tidak menyembah selain kepada Allah. Ini pulalah yang kemudian ditegaskanNya dalam Quran Surat An Nisa : 48

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

         Peringatan inilah yang harus kita waspadai. Kesyirikan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Baik kesyirikan Uluhiyah maupun kesyirikan Asma' wa Sifat. Seseorang yang telah berikrar atau bersumpah bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah memiliki konsekuensi yang besar atas apa yang dia ucapkan. Dia tidak boleh menjadikan Ilah-Ilah yang lain sebagai sesembahannya, baik itu hartanya, suami/istrinya, anaknya, jabatannya, pangkatnya/kedudukannya, ataupun kecintaan lainnya. Tidak ada yang boleh menyamai kedudukan Allah dalam hal menuhankannya.
         Kalau pun kita setiap hari sudah bersyahadat tapi kecintaan kita pada dunia (wanita, harta, tahta dan anak-anak) masih lebih besar dari kecintaan kita padaNya maka tentu ada yang harus kita introspeksi.
         Sejatinya semua yang Allah berikan hanyalah sarana kita untuk menghamba padanya. Semua hanya titipan dari Allah. Jadi layakkah barang titipan itu lebih kita cintai dari pemiliknya? Tentu tidak. Orang-orang yang bisa memahami makna ini tentu tidak akan susah hidupnya. Karena hanya kepadaNya ia bergantung. Apapun yang terjadi pada dirinya tentu semua ketentuan Allah dan hanya kepadaNya semua urusan dikembalikan.

Asyhaduanna  Muhammadur Rosulullah
         "Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Jadi selain bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah maka kita juga bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. So.. ini merupakan ungkapan janji kita bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Lagi-lagi ini juga bukan sekedar janji belaka, tapi disini pun mengandung konsekuensi sebagaimana Laa ilaha illallah tadi menuntut konsekuensi maka demikian pula dengan kesaksian yang ke dua. Kalimat ini memberikan kosekuensi agar kita mengikuti apa yang diajarkan Rosulullah SAW, baik apa yang beliau katakan, lakukan maupun yang beliau iyakan atau beliau tidak iyakan. Wah kok bahasanya rumit ya..
       Contoh mudahnya begini, misalnya berdusta, ini tidak ada dalam tuntunan beliau kecuali berbohong yang dianjurkan untuk kebaikan, jadi kalau sudah bersyahadat mestinya kita bisa menjaga diri dari kata-kata dusta. Contoh lainnya misalnya berzina, selain Allah memang memerintahkan untuk menjauhinya di  Qur’an surat Al Isra’ ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk.”, maka Rosulullah pembawa risalahpun sangat mewanti-wanti kita untuk menjauhinya. Mendekat saja tidak boleh apalagi melakukannya. Nah itu dua contoh simpelnya yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sebagai konsekuensi dari syahadat kita kepada Allah. Jadi Rosulullah mestinya menjadi qudwah alias teladan dalam menjalani hidup.

Arti Penting Kalimat Syahadat

1. Pintu Masuk Ke Dalam Islam
Ibarat bangunan, maka untuk masuk dalam bangunan Islam haruslah melalui pintu yaitu syahadat. Tanpa mengucapkan syahadatain maka amal yang dikerjakan seseorang itu bagaikan debu yang beterbangan.atau fatamorgana yang terlihat tapi tidak ada. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahaadatain. Syahaadatain menjadi pembeda manusia kepada muslim dan kafir.
Secara fitrahnya manusia adalah Islam. Mereka telah bersyahadat dalam masa penciptaan. Hal ini diterangkan dalam QS. 7:172. ketika masih di alam arwah sesungguhnya setiap kita telah diambil janji oleh Allah "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) ". Manusia telah bersyahadah Rubbubiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahaadah Risalah di dunia. Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah SWT. Ini perlu disempurnakan di dunia dengan membaca syahaadatain sesuai ajaran Islam.


2. Intisari ajaran Islam.
QS. 51:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.
Yang menjadi inti dari ajaran Islam sesungguhnya adalah kalimat Tauhid, pengesaan terhadapAllah. 
Inilah yang terkandung dalam Kalimat Syahadat. Bahwa Allah haruslah menjadi satu-satunya Ilah yang berhak disembah, tidak ada selainNya. Ajaran ini menjadi inti dari setiap risalah yang dibawa oleh setiap nabi dari Adam sampai Muhammad SAW.

3. Dasar-dasar perubahan menyeluruh. 
Seseorang yang telah berikrar Laa ilaha illallah maka menjadi tonggak 

4. Hakikat dakwah para rasul.
Tidak ada satu nabipun yang tidak mengajarkan pada umatnya untuk menyeru kepada selain Allah, 
tidak Ibrahim, Musa, Sulaiman, pun juga Isa. Semua nabi menyeru agar kita hanya menyembah
kepada Allah saja. 

5. Keutamaan yang besar.


Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...