Written By Titin Yusuf on Selasa, 19 Maret 2013 | 17.00
|
Tidak
harus kau!
Tapi,
aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang
(Sakti
Wibowo : Sepasang Merpati Berkalung Safir)
Lupakan.
Lupakan cinta yang tidak akan bersemi di pelaminan. Demikian, ustadz Anis
Matta menulis di Serial Cinta miliknya. Sebab tidak ada
cinta tanpa pernikahan. Cinta tanpa temu fisik hanya akan mewariskan
penderitaan bagi jiwa. Mencintai itu menikahi. Itulah yang beliau sampaikan.
|
Masih ingat kisah cinta Nurul dan Fahri dalam Ayat–ayat
Cinta nya Kang Abik. Atau mungkin kisah cinta antara Tiara dan Fadhil
di Ketika Cinta Bertasbih lebih dikenal. Bukan hanya karena
ditulis oleh novelis yang sama yakni Habiburrahman El Shirazy. Namun pesan
moral yang coba penulis sampaikan pada para pembacanya. Tak selamanya ujung
akhir cinta itu selalu indah. Tak jarang mimpi para pecinta harus luruh, tunduk
pasrah pada kehendak takdir Yang Kuasa. Yang mungkin ceritanya bakal jauh lebih
indah dari yang mereka sangka.
Sebagaimana terjadi pada banyak wanita, Nurul
dan Tiara mungkin tak memilih. Namun dalam hidup selalu ada pilihan, Menikahi
orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Salim A. Fillah
menyebut, yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah
kewajiban. Dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta, beliau menggubah selarik
puisi.
Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu… aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana… tinggi menggapai
syurga
Keduanya dalam kondisi yang sama. Menunggu detik-detik menjelang akad nikah
dengan lelaki yang tak mereka cintai. Keduanya berkeras bahwa tidak akan mudah
atau bahkan tidak akan bisa memberikan hati yang sudah diisi dan ditempati oleh
orang lain. Keduanya tunduk pasrah tanpa upaya dan menjadikan cinta sebagai
penguasa hingga tanpa sadar merasa sulit menerima yang lebih indah, lebih halal
dan lebih agung bagi mereka.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah mengutip judul buku yang indah dari Ukhti Izzatul
Jannah, Karena Cinta harus Diupayakan. Beliau mengungkapkan bahwa
Allah mengajari kita untuk mengupayakan cinta. Seperti cinta kita padaNya yang
tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dengan iman. Iman datang karena
hidayah. Hidayah datang karena menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada
ikhtiar. Jika cinta pada yang Maha Agung adalah buah dari ikhtiar. Maka,
mengapa kita tak mengupayakan cinta kita pada dia yang dihalalkan untuk kita.
Dan justru lebih memilih terbelenggu oleh cinta yang tak dihalalkanNya.
Astaghfirullah …..
Beliau juga menambahkan, sering ia mengatakan pada para ikhwan, “Antum
bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya, malah kalau bisa
sebanyak-banyaknya. Tapi harus jadi gentle dan sportif!, Kalau ada
ikhwan atau lelaki lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang angan
pengisi sepi… jangan menangisi nasib diri! Persilahkan dengan gagah bahkan…
bantu dengan segenap pengorbanan jika perlu!“
Begitupun pada para akhwat hal yang sama berlaku “Antunna bebas mencintai
ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang yang berbeda nama, yang baik akhlaqnya
dan agamanya datang… sedangkan antum tidak memiliki alasan syar’i untuk
menolak… jangan pernah sekali-kali antum menghindar…”
Pada akhirnya jika boleh dikata sebagai mana syair milik Sakti Wibowo yang
dikutip diatas “Tidak harus kau… Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam
keadaan masih membujang .” Maka teruntuk para ukhti… tak harus dengan sebuah
nama yang sudah tersimpan rapi dalam hati. Tapi amat baiklah jika memilih
sebuah nama yang menghampiri anti dengan gagah berani. [Kembang Pelangi]
sumber : www. bersamadakwah.com

