Selasa, 08 Oktober 2013

Tebarkan Cinta, Tingkatkan Amal dan Ringankan Beban Sesama



There is difference between KNOWING the path and WALKING the path
[Morpheus – The Matrix Revolution]

Umi dan Sahabat...

            Adalah berbeda antara orang yang hanya sekedar tahu sebuah “jalan” dengan orang yang sepenuh perjuangan menapaki “jalan” tersebut. Mengetahui saja tidak cukup tapi jauh lebih baik jika merealisasikan apa yang kita tahu. Kita tahu shalat sunnah sebelum Shubuh itu fadhilahnya lebih utama dari pada dunia dan seisinya. Tapi lebih utama lagi jika kita istiqomah mengamalkannya. Kita tahu jalan dakwah itu kewajiban yang indah. Tapi lebih berkah jika kita turut bergerak di dalamnya. Itulah kelemahan kita, sering berilmu tapi belum maksimal dalam beramal.

              Di dunia ini tak sedikit orang yang berpengetahuan. Namun, dunia tidak jadi lebih baik hanya dengan itu. Dunia akan berubah ketika kita melakukan sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan yang kita punya. Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan :  “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia. Hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit yang ber-Islam. Dari mereka yang ber-Islam jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang, jauh sedikit lagi yang mau bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja yang sampai pada akhir perjalanan ”.

            Kita tentu tak asing lagi dengan firman Allah berikut ini : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. "(QS. 3:104)

            Allah sudah menyebutkan akan termasuk golongan yang beruntung bagi orang- orang yang menyeru dan berdakwah di jalan Nya. Kita tahu Allah Maha Benar, janji-Nya adalah sebuah kepastian. Jika Allah katakan beruntung, pasti akan beruntung. Tapi tidak semua dari kita mau dan sudah bergabung menjadi bagian dari barisan orang–orang beruntung sebagaimana yang disebutkan-Nya tersebut. Jadi, masihkah kita ragu untuk meniti jalan dakwah ini? Padahal Allah telah menyampaikan pujianNya melalui ayat berikut yang seharusnya memantapkan hati kita untuk tetap istiqomah :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Kita akan masuk dalam barisan khoiru ummah ketika bergabung dalam barisan orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Itu adalah janji Allah, dan sungguh janji Allah adalah benar.

Umi dan Sahabat ..

            Menjadi bagian dari dakwah tentulah bukan hal yang mudah. Ujian, cobaan, cacian, hinaan, dan godaan untuk tidak istiqomah datang sepanjang waktu. Menguji hampir setiap hari dan setiap kali. Rasa takut pasti akan dialami. Maka bagi orang–orang beruntung yang telah memilih menjadi bagian dari dakwah, meraka punya senjata ampuh untuk meneguhkan hati dan membangkitkan kembali semangat mereka.

            Sudah seharusnya motivasi dari Rabb tercinta ini menjadi pelecut bagi semangat kita untuk tetap berjuang menapaki jalan ini : “Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman ” (QS. Ali Imron 139)

            Berbahagialah bagi jiwa-jiwa yang telah memilih menafkahkan diri, harta dan jiwanya pada dakwah demi tegaknya kembali Izzah Islam wal muslimin. Dengan Al Qur’an dan Sunnah sebagai landasan bergeraknya, bagi merekalah kemenangan yang agung, "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (QS As Shaff 11-13)

Umi dan Sahabat..

            Semangat dakwah ini harus terus mewarnai hari-hari kita, terlebih di bulan suci ini. Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan adalah bulan bonus dimana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka di bulan inilah kesempatan kita untuk menebar kebaikan sebanyak mungkin, untuk menyambut dan mengisinya dengan optimal. Di bulan ini  terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka. Dan itu merupakan kemenangan yang membahagiakan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Rasulullah menyambut bulan Ramadhan dengan penuh perasaan bahagia dan suka-cita. Beliau ingatkan para sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal. Diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di harapan para sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

           Para sahabat dan salafus-shalih senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan Ali datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
         Diriwayatkan Anas bin Malik bahwa para sahabat Nabi saw ketika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta merta meraih mushaf mereka dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat harta mereka agar yang lemah menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Para gubernur memanggil tawanan, barangsiapa yang meski dihukum segera mereka dihukum atau dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk melunasi apa yang menjadi tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak mereka. Sampai ketika mereka melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi dan I’tikaf.”
Banyak membaca Al-Qur’an adalah salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Bersedekah dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan kewajiban sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah di bulan suci ini. Bukan dengan kegiatan fisik dan materi yang mereka siapkan, namun hati, jiwa, dan pikiran yang mereka hadapkan kepada Allah. Bukan sibuk dengan pakaian baru dan beragam makanan untuk persiapan lebaran yang mereka siapkan, namun semua makanan rohani dan pakaian takwa hingga mendapatkan janji Ramadhan.
Ibnu Mas’ud Al-Ghifari menceritakan,
“Aku mendengar Rasulullah saw –suatu hari menjelang Ramadhan – bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa itu Ramadhan tentu umatku akan berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”

Umi dan Sahabat..

         Marilah kita singsingkan lengan baju untuk mengisi Ramadhan dengan sebanyak mungkin kebajikan, Sebisa mungkin kita berbagi meski sekedar ilmu yang kita punya. Kalaupun kita berlebih pada harta maka keutamaan bagi kita untuk meringankan beban sesama. Mari kita berbagi pada yang lebih membutuhkan. Kurangi hal-hal yang sia-sia, sambung tali silaturahmi yang terputus, Semoga Allah meridloi setiap langkah kita. Amiin. Kita tidak tahu apakah kita juga akan mendapati bulan suci ini tahun depan ataukah kita mendapatinya menjadi Ramadhan yang terakhir bagi kita. Wallahu a’lam.


***************



RESUME BUKU KARYA FATHI YAKAN : YANG BERGUGURAN DI JALAN DAKWAH


PENDAHULUAN
Fenomena berjatuhan (seperti : penyelewangan, penyimpangan, pengunduran diri dsb) dalam perjalanan dakwah adalah gejala umum, mencemaskan dan kronis. Diantara mereka ada yang meninggalkan dakwah dan tidak meninggalkan islam, ada pula yang meninggalkan jamaah dan mendirikan jamaah lain bahkan ada yang meninggalkan dakwah dan meninggalkan islam secara bersamaan.
Dalam banyak hal dan waktu, gejala berjatuhan ini menjadi faktor pendukung tersebarnya gejala negatif lain yaitu terpecahnya amal islami yang pada gilirannya berjatuhanlah para aktifis dan da’i dalam kancah pertarungan kalangan islam sendiri.
Yang harus menjadi  peringatan adalah bahwa fenomena ketergelinciran ini tidak saja menimpa barisan depan, para pendiri gerakan dan para pendahulu tapi juga para penerusnya.
Jika sebagian orang menilai jatuhnya mereka yang “berjatuhan” sebagai suatu fenomena sehat yang harus terjadi guna memperbaharui sel-sel inti dan membebaskan diri dari hambatan pergerakan, namun sejatinya ini adalah persepsi yang tidak baik sama sekali. Tetapi fenomena “berjatuhan” sesungguhnya lebih menyerupai banjir yang menghanyutkan segala yang berharga dan tidak berharga. Padahal di QS. Al Anfal Allah mengingatkan : “ Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang yang dzolim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanya.”

BAB I FENOMENA YANG BERJATUHAN DI MASA NABI

Fenomena keterjatuhan di masa nabi belumlah menonjol sebagaimana di masa modern ini, akan tetapi lebih kepada terjerumusnya oknum-oknum ke dalam kekeliruan dimana umat dihadapkan pada 2 alternatif saja yaitu Islam atau jahiliyah yaitu berkisar tanpa keluar dari barisan Islam. Adapun dewasa ini ada beragam pandangan, namun yang terpenting adalah bahwa seseorang yang keluar dari pergerakan tidak berarti ia keluar dari agama Islam. Hal ini sangatlah memnbuka peluang untuk lari dari barisan sedang oknum tersebut tidak menyadari bahwa ia telah melakukan maksiat dan dosa.
Berikut adalah beberapa fenomena yang berjatuhan di masa nabi :
1.         Para pembelot perang Tabuk.
Ka’ab bin Malik, Murarrah Ibnu AR Rabi’ dan Hilal bin Umayah adalah 3 orang muslim yang membelot bukan karena ragu-ragu dan bukan karena sifat nifaq. Karena pada ketiganya sesungguhnya tidak pernah diketahui kecuali kebaikan. Akan tetapi mereka membelot lebih karena menunda-nunda persiapan. Namun apa yang terjadi adalah ketiganya tidak ikut serta dalam perang tabuk hingga Rosullullah kembali. Hal ini mengakibatkan Rosullullah memerintahkan kepada para sahabat beliau : “ Janganlah kalian berbicara dengan seorangpun diantara mereka bertiga!
Pengucilan oleh Rasul dan para sahabat terhadap Ka’ab bin Malik, Murarrah Ibnu AR Rabi’ dan Hilal bin Umayah, sangat menyiksa bagi ketiganya sebagaimana disebutkan Allah bahwa bumi ini terasa sempit bagi mereka. Bahkan para istrinyapun dilarang untuk melayani kebutuhannya. Pengucilan itu mereka alami sampai lima puluh hari dan pada pagi kelima puluh barulah Rosulullah mengumumkan kepada manusia bahwa Allah menerima taubat ketiganya yaitu dengan turunnya QS. At Taubah : 117-119 : “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Namun satu yang harus menjadi catatan adalah bahwa ketiganya ketika itu tidak berdusta kepada Rosulullah sebagaimana orang-orang munafiq membela diri dengan berdusta. Mereka tetap bersabar hingga Allah memutuskan persoalan mereka. Dan mereka bertiga termasuk orang yang ditangguhkan.
2.         Hathib Ibnu Abi Balta’ah
Hathib Ibnu Abi Balta’ah adalah salah seorang sahabat Rosul yang terjerumus kepada hal “pembocoran rahasia negara dan pengkhianatan besar”. Ketika Rosulullah memutuskan untuk suatu perjalanan ke Mekah, Hathib bin Abi Balta’ah menulis sepucuk surat kepada orang Quraisy yang mengabarkan tentang bersepakatnya Rosulullah untuk suatu perjalanan menuju mereka (Quraisy). Surat tersebut diberikan pada seorang perempuan dari kabilah Muzainah, budak dari Bani Abdulmunthalib. Kemudian Allah menurukan wahyu pada Rosul atas apa yang diperbuat Hathib. Maka Rosul pun segera mengutus Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwan untuk mengejar perempuan tersebut. Yang menjadi alasan Hathib adalah bahwa ia khawatir keadaan keluarganya yang ada di kalangan orang Quraisy karena Hathib tidak memiliki sanak keluarga di kaum Muslimin. Namun demikian Hathib akhirnya diampuni oleh Rosulullah karena sebagai salah seorang ahli Badr dan Allah menurunkan QS. AL Mumtahanah 1-4 terhadap peristiwa Hathib :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,............. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja..... dst smp akhir ayat.”
3.         Peristiwa Bohong (Haditsul Ifk)
Peristiwa Haditsul Ifk ini terjadi ketika Rosulullah melakukan perjalanan dan yang keluar undiannya dari istri beliau untuk mengikuti perjalanan itu adalah ‘Aisyah r.a. Peristiwa ini berawal dari jatuhnya kalung aisyah ketika beliau keluar dari tandu untuk suatu keperluan. Tanpa diketahui bahwa aisyah keluar dari tandu tersebut dan belum kembali karena masih mencari kalungnya yang jatuh, rombongan berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah berharap bahwa rombongan akan segera menyadari ketiadaan dirinya dan tetap menunggu di tempat pemberhentian semula. Namun hingga Shafwan ibnul Mu’athtal As Sulami yang diberi tugas berjalan dibelakang pasukan sebagai pasukan “sapu bersih” itu melewati tempat Aisyah, rupanya rombongan masih tidak menyadari ketertinggalan Aisyah. Dan Akhirnya Aisyah menumpang di unta yang di tuntun oleh Shafwan. Maka fitnah pun tidak dapat dihindarkan. Rosulullah pun berpaling dari ‘Aisyah dan Aisyah pindah ke rumah orang tuanya karena melihat Rosulullah tidak senang padanya. Aisyah demikian menderita dengan peristiwa berpalingnya Rosul darinya hingga sampailah berita itu padanya bahwa Misthah dan Hamnah binti Jahsy dan juga Abdullah bin Ubbay telah menyebarkan berita bohong. Fitnah itu telah menyakiti kehormatan Rosul hingga akhirnya turun wahyu yang menyatakan Aisyah bersih dari apa yang dituduhkan. Ayat yang turun berkenaan dengan fitnah terhadap Aisyah ini dalah QS. An Nuur : 11-12 :
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata"
4.         Masjid Dhirar
Masjid Dhirar adalah masjid yang didirikan untuk memecah belah kaum muslimin, maka Rosulullah memerintahkan untuk menghancurkannya. Kepada Mereka diturunkan pula QS. At Taubah :107 : “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).”
5.         Peristiwa Abu Lubabah
Ketika Rosulullah mengutus Abu Lubabah bin Abdil Munzir kepada Bani Quraizah guna memenuhi tuntutan mereka setelah mereka mengkhianati dan membatalkan perjanjian dan bersekongkol terhadap umat islam –muncul darinya apa yang dianggap khianat pada Rosulullah. Namun laki-laki itu, begitu terjerumus, cepat menyadari dan menyesali perbuatannya serta menebus kesalahannya dengan mengikatkan dirinya ke tiang masjid. Terhadap peristiwa Abu Lubabah ini turun QS. Al Anfal :27 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Disamping kelima peristiwa yang dikemukakan diatas masih banyak lagi contoh-contoh sepanjang sejarah. Namun pada peristiwa-peristiwa tersebut umumnya berakhir dengan kesadaran oknum atas kesalahannya dan bersegera taubat serta insyaf tanpa sikap yang berlebihan ataupun terus menerus berlaku salah. Disana nampak adanya kesucian niat, kebersihan maksud, keaslian inti serta dorongan kuat atas kesatuan barisan dan komitmen berjamaah. Ini amat berbeda dengan yang berjatuhan di zaman modern ini dimana fenomena berjatuhan dewasa ini ditujang oleh penyakit gawat, buruk dan keras seperti hilangnya kesetiaan, hapusnya kekeluargaan, kemunafikan serta kedengkian dan penipuan atas umat islam. Para pemecah belah tidak cukup hanya mengacau badan memecah belah barisan bahkan mereka menantang perang saudara mereka sendiri. Ini tentu bukanlah akhlaq dan ajaran islam. Karena Rosulullah pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah : “Kemuliaan seorang mu’min adalah agamanya, peradabannya adalah akalnya dan kehormatannya adalah akhlaknya.”

BAB II SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

Sebab-sebab berjatuhan bisa terletak dari pergerakan, individu maupun situasi yang menekan.
1.         Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan.
Sebab-sebab yang membantu individu dakwah berjatuhan dan tanggung jawab berada di pundak pergerakan antara lain :
a.       Lemahnya segi pendidikan
Pendidikan atau tarbiyah mengambil posisi penting dalam pengontrolan setiap individu aktifis dakwah. Para aktifis yang telah berada pada posisi politis, administratif dan lainnya seringkali menyangka telah mencapai puncak aktifitas dan telah mewujudkan kemenangan tanpa merasakan kehampaan jiwa, kemuduran pendidikan dan kemerosotan iman dalam kehidupannya. Padahal Rosulullah bersabda “ Sesungguhnya iman itu telah menjadi lusuh (rapuh) dalam diri kamu sebagimana pakaian menjadi lusuh. Maka mintalah kepada Allah agar Dia memperbahari iman di dalam hatimu. “ (HR. Tabrani dan Hakim)
Islam mengajarkan bahwa manusia itu selalu dalam ujian bersama dakwahnya dan selalu dalam cobaan bersama dirinya. Karenanya dia diharuskan untuk  memperhatikan dirinya, ingat Rabbnya, mengontrol kelakuannya dan menyuburkan imannya. Pergerakan yang lemah kemampuan pendidikannya untuk memenuhi kebutuhan individunya akan kontrol dan pendidikan maka bangunan dan tubuhnya mudah diserang penyakit, sebaliknya apabbila perhatian dan imunitas pendidikannya terpenuhi maka akan memiliki imunitas (daya tahan). Ikatan Individu dan pergerakannya haruslah didasarkan atas ikatannya dengan Allah dan Islam. Pergerakan hanyalah sarana dan bukan tujuan.
b.       Tidak menempatkan individu pada posisi yang tepat
Pergerakan yang mempunyai kesadaran dan kematangan adalah pergerakan yang mengenal kemampuan, kecenderungan dan pembawaan masing-masing personalnya. Mengenal titik-titik kekuatan dan kerawanan mereka. Dari situlah pergerakan bisa menempatkan “the right man in the right place”. Apabila pergerakan dalam proses pemilihan posisi memutuskan tanpa pandangan-pandangan obyektif maka rusaklah keseimbangan  (equilibrium) dalam segala jaringannya. Karena “apabila suatu urusan dalam suatu pergerakan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya..”
Oleh karenanya pergerakan berkewajiban mengklasifikasikan potensi personal-personalnya menurut spesialisasi reputasi mereka seperti bidang pendidikan, politik, keuangan dan ekomomi maupun urusan olah raga dan seterusnya.
c.        Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu
Fenomena ini termasuk fenomena yang paling berbahaya bagi pergerakan karena aktifitas tertumpuk pada tangan sekelompok tertentu sementara sebagian besar personalnya tidak kebagian pekerjaan. Pergerakan yang memiliki potensi tenaga yang bermacam-macam haruslah menyusun program dan perencanaan sesuai dan seimbang dengan setiap bidang dan spesialisasinya. Kesuksesan pergerakan dalam mendistribusikan tugas tenaga-tenaga personalnya merupakan awal kesuksesan dan kemajuannya. Setiap individu dalam pergerakan haruslah bertanggung jawab dan perperan, merasa sebagai anggota yang produktif dan aktif bekerja sesuai kapasitasnya. Penugasan yang benar adalah penugasan yang tidak mensia-siakan tenaga walaupun kecil.
d.       Tidak adanya monitoring individu
Diantara faktor yang mendorong berjatuhan individu-individu dari pergerakan adalah tidak adanya pemantauan terhadap mereka, juga tidak adanya perhatian pergerakan terhadap situasi-situasi khusus atau umum yang berpengaruh kepada mereka.Individu-individu pergerakan seperti juga manusia lainnya yang mengalami situasi-situasi gawat, krisis dan problematika yang bermacam-macam. Jika pergerakan memantu dan menolongnya maka mereka dapat melaluinya dengan selamat dan jiwa mereka penuh kepercayaan terhadap pergerakan. Mereka akan mengiring langkahnya dengan semangat dan pengabdian yang meningkat. Namun apabila yang terjadi sebaliknya maka mereka akan ditimpa kekecewaan dan kekosongan jiwa yang akan melemparkan mereka keluar dari lingkungan pergerakan. Sabda Rosulullah : “Perumpamaan orang mukminin dalam hal saling mencintainya, kasih sayang dan kesetiakawanan antara mereka seperti satu tubuh, yang apabila salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit maka seluruh tubunhnya saling terpanggil untuk sama-sama merasakan berjaga semalaman dan demam.” (HR. Muslim)
Dalam pergerakan, pemantauan bisa dilaksanakan dari dua segi yaitu dai pihak organisasi diantara jaringannya dan dari pihak persaudaraan diantara individu-individunya.
e.       Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat
Efek dari tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat akan berakibat pada kekusutan berbagai urusan dan problema dan menemukan jalan buntu. Pada hakekatnya cepatnya memutuskan berbagai  urusan dan mengatasi segala permasalahan dapat membebaskan pergerakan dari kelesuan. Menjauhkan dari ancaman dari dalam yang sering berakhir dengan kerugian dan berjatuhannya sebagian mereka dan berjatuhannya yang lain.
f.         Konflik Internal
Konflik internal menjadi musibah paling berbahaya bagi pergerakan yang mengakibatkan kehancuran dan perusak yang meruntuhkan. Sebab-sebab antara lain : Lemahnya kepemimpinan dan tidak mampu konsolidasi, Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan dari luar yang sengaja menyebar fitnah, perbedaan watak akibat perbedaan latar belakang, persaingan kedudukan, tidak adanya komitmen pada politik, institusi dan dasar pergerakan,  Kefakuman aktifitas dan produktifitas yang harusnya menjadi kesibukan para aktifis dakwah.
g.       Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified
Kelemahan kepemimpinan dan ketidakmampuan merangkul dan memelihara barisan pada setiap periode, situasi dan kondisi bisa berakibat pada berjatuhannya individu.Karenanya sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang yang memegang kepemimpinan pergerakan adalah sbb:
·         Mengenal dakwah : mengenal ideologi, doktrin dan organisasi serta mengikuti kegiatan dan aktifitas pergerakan.
·         Mengenal diri sendiri :mengakui dan menyadari kelemahan diri, menemukan kekuatan yang ada pada dirinya, berambisi untuk mengembangan pengetahuan umum dan mempunyai perhatian terhadap berbagai tokoh pemimpin.
·         Pengayom yang kontinu/ Perhatian penuh :perhatian dari pimpinan akan memantapkkan dan memperteguh kepercayaan individu dakwah.
·         Teladan yang baik : Individu akan menjadikan pemimpin mereka sebagai contoh suri teladan sebagaimana QS. AL Ahzab : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
·         Pandangan yang tajam : Kemampuan melakukan penilaian yang cepat dan tepat akan memberikan keputusan yang tepat
·         Kemauan yang kuat
·         Kharisma kepribadian yang fitrah : Akan mempesona hati tanpa kesulitan
·         Optimisme : diliputi cita-cita dan jiwa yang bersih.

2.         Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu
Dengan adanya tanggung jawab pergerakan terhadap fenomena berjatuhan tidak menjadikan individu terbebas dari pertanggungjawaban karena sesungguhnya kebanyakan sebab-sebab fenomena berjatuhan itu bersumber dari para individu sendiri. Berikut adalah sebab-sebab yang bersumber dari individu :
a.       Watak yang tidak disiplin: tidak mau berasimilasi dan beradaptasi dalam lingkungan jama’ah dan berkeinginan kuat mempertahankan sifat-sifat kepribadiannya.
b.       Takut terancamnya diri dan periuk nasi : takut mati dan miskin sehiingga setan masuk melalui pintu ini : QS. An nisa :120 Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”
Cobaan terhadap jamaah ini juga sudah disampaikan Rosulullah dalam salah satu sabdanya : “ Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih shaleh kemudian menyusul lagi yang lebih utamanya. Sesorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya lemah, ia dicoba menurut kadar agamnya itu. Cobaan itu selalu datang kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan di atas bumi ini sedang tidak ada atasnya kesalahan.”(HR. Bukhari, Ahmad dan Turmidzi)
“ Celakalah abdi dinar, abdi dirham, abdi pakaian, celaka dan sengsaralah ia. Bila ia tertusuk duri maka ia tidak akan tercabut” (HR. Ibnu Majah)
c.        Sikap Ekstrim dan berlebih-lebihan (axcessive): membebankan diri di luar kemampuan dan tidak menerima sikap pertengahan. Orang zuhud bukanlah orang miskin yang kantongnya tidak berisi dinar dan dirham. Akan tetapi orang zuhud adalah yang apabila ketiban harta duniawi, ia tidak lantas menjadi sombong dan durhaka dan jika tidak mendapatkan hal-hal duniawi ia tidak sedih dan kafir..
d.       Sikap terlalu bermudah-mudah dan meremehkan : Sesungguhnya gunung terdiri dari batuan kerikil kecil. Orang yang terlalu bermudah-mudah dalam melaksanakan perintah Allah dan komitmennya dengan hukum Syara’ mereka akan mendapatkan dirinya terdorong dari sikap bermudah-mudah dalam hal-hal kecil kepada hal-hal yang besar.Orang yang terbiasa meremehkan berbagai hal tidak akan mampu memikul kewajiban pada suatu waktu. Dalam salah satu hadist riwayat Nasa’i dari Aisyah Rosulullaj bersabda : “Hai Aisyah! Hendaklah engkau menjauhi sikap mengecil-ngecilkan dosa. Sesungguhnya dosa-dosa itu itu mempunyai penuntut dari Allah.”
e.       Tertipu kondisi gemar menampilkan diri : Sabda Nabi s.a.w : “Sesungguhnya yang paling saya takutkan atas umatku adalah syirik kepada Allah, saya tidak mengatakan mereka menyembah matahari, bulan atau berhala, tetapi adalah amal-amal yang bukan karena Allah dan dan keinginan tersembunyi.” (HR. Ibnu Majah). Sesungguhnya dakwah Islamiah tidak layak untuk orang yang congkak dan sombong dan orang yang takabbur dan angkuh.”Tiga perkara yang membinasakan yaitu : bakhl yang diperturutkan, nafsu yang tak terkendali dan kekaguman seorang akan dirinya sendiri” (HR. Tabrani)
f.         Kecemburuan terhadap orang lain
ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS. An Nisa : 54)
g.       Bencana senjata
Fenomena ektrimisme yang paling berbahaya adalah apa yang ada hubungannya dengan penggunaan kekuatan (senjata)

3.         Sebab Tekanan Luar (External Pressure)
a.       Tekanan dari suatu cobaan : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut : 1-3) Cobaan ini merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjatuhnya sebagian orang dalam lingkungan islam, bersamaan itu bagi sebagian orang sebaliknya menjadi faktor penguat, menjadikan terpercaya, tangguh serta mantap.
b.       Tekanan keluarga dan kerabat : Sedikit sekali orang yang bisa selamat dari tekanan ini karena diusik kekhawatiran terhadap anak-anak mereka yang ditimpa penbderitaan seperti yang menimpa para da’i, pejuang dan aktivis pada setiap masa dan tempat..Padahal Allah telah mengingatkan di QS. At Taubah : 24 : “Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
c.        Tekanan lingkungan (Environment Pressure) : Diingatkan bahwa Imam Syahid hasan Al Bana ketika melepas seorang saudara ke negeri asing maka dua hal yang beliau ingatkan yaitu perempuan dan minuman keras.
d.       Tekanan gerakan agitasi : Gerakan agitasi tidak ada pekerjaan selain menyebar keragu-raguan dan kritik seolah cangkul yang menghujam dan meruntuhkan pergerakan Islam atas nama Islam. Bangkitnya kelompok-kelompok Islam tersebut mengakibatkan timbulnya kerancuan gambaran Islam dan kerancuan kepribadian Islam dan membawa pada kerancuan amal islam itu sendiri.
e.       Tekanan figuritas : Kekaguman perhadap tokoh dan embel-embelnya masuk sebagai penyakit kekaguman dan tertipu, cinta kebesaran dan ananiyah. Hal inipula yang menjerumuskan iblis ketika ia berbangga dengan dosanya lalu berkata :
“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al A’raaf : 12)
Penokohan merupakan malapetaka bagi kehidupan dakwah dan menjadi pintu gerbang syaitan masuk dalam diri mereka.
Terakhir doa kita, Segala puji bagi Allah Rabb pemelihara semesta. Mohon Kebenaran, kemantapan dan husnul khotimah. Kita berlindung denganNya dari kehilangan nikmat, kedahsyatan siksaan, kehilangan kesehatan dan buruknya kesudahan. Sesungguhnya Dia Maha Menerima doa hambanya.. Amiin.

(oleh : Yuli Rohmawati)


******




Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian




Written By Admin BeDa on Jumat, 26 Maret 2010 | 15.30

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.
Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.
Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk "Kepada Saudariku Para Muslimah";
Ditengah serangan Israel ke Libanon dan "perang melawan teror" yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.
Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.
Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan
Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.
Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.
Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.
Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.
Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.
Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih "seksi" daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah "misteri" dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.
Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.
Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.
Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.
Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.
Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.
Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.
Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.
Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.
Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.
Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.
Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.
Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.
Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !.  [ln/iol, EraMuslim]

Jumat, 15 Maret 2013

Ada Apa Dengan Bangsa Negeri Ini?




Akhir-akhir ini alangkah penuhnya media sosial yang semestinya dapat kita gunakan untuk hal-hal positif berubah menjadi ajang hujat menghujat. Demikian mudah orang berkata-kata kasar melalui tulisan yang mereka tulis. Adakah ini orang Indonesia, yang dulu ketika saya masih kecil dikenalkan oleh Bapak/Ibu Guru sekolah dikatakan sebagai negeri yang orang-orangnya santun, saling menghormati, saling tolong menolong, rukun dan gotong royong. Seperti yang terkandung dalam nilai-nilai P4 yang harus dihafal butir-butirnya di sekolah. Tapi kenapa yang saya temui saat ini bukan seperti yang tergambar ketika saya masih kecil? Adakah yang sudah berubah?
Ataukah kini sudah terjadi pergantian generasi? Generasi yang dulu dikatakan santun itu telah renta dan telah tergantikan oleh anak cucunya atau apakah yang sebenarnya sedang terjadi?
Di berbagai tayangan, hampir tiap detik kita saksikan kejahatan demi kejahatan telah terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang notabenenya anak negeri ini? Mulai perampokan, pemerkosaan oleh orang-orang terdekat bahkan dalam hubungan kandung (Na'udzubillah), pembunuhan, bentrokan antar masyarakat (disertai kekerasan dan anarkhi), bentrokan antar instansi, bahkan dalam tingkat birokrasi para pengemban pemerintahan dengan tanpa malu dan takut mengkorup harta negara, para hakim memberikan putusan-putusan "konyol" yang tentunya sangat jauh dari kata 'keadilan'.
Inikah generasi yang mengaku lebih maju peradabannya, lebih mengenal teknologi dan dimanjakan dengan segala kemudahan teknologi, hingga moral tak lagi dipedulikan. Inikah sebenarnya generasi masa depan yang sebenarnya kita cita-citakan? 
Tentu kita akan menyangkal bahwa ini adalah generasi harapan. Jadi apa yang sebenarnya sedang terjadi? Orang yang dengan mudah mengeluarkan kata-kata kasar pada saudaranya, banyak yang merasa dirinya paling hebat sehingga berhak menghujat orang lain, orang yang merasa dirinya paling benar sehingga seolah setiap kata-katanya adalah hujjah yang tidak bisa dipatahkan. 
Dari sisi komunikasi ada yang bisa saya tangkap tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini, ketika suatu waktu tanpa sengaja saya temukan kosa kata dari sebuah artikel yang membahas tentang Verbal Aggression oleh Erwyn Kurniawan. Disitulah ada yang saya peroleh, bahwa ada 4 macam cara penyelesaian konflik. Menurut materi "Membangun Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak" dalam Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini yang disampaikan oleh pakar dan praktisi pendidikan anak dari Florida, AS: Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D.Disana dikatakan bahwa ada 4 tahapan dalam penyelesaian konflik :
  • PertamaPasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.
  • Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul. 
  • Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!” 
  • Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bercermin dari empat tahapan di atas, jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini seperti mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat kita masih berada pada tahap ketiga yaitu verbal aggression. Kebanyakan anggota bangsa ini masih senang menyerang orang dengan kata-kata hinaan yang kasar. Bisa jadi ini terjadi karena tahapan verbal aggression tersebut tak dilalui dengan tuntas saat masih anak-anak. Mungkin itulah masalah komunikasi yang sedang dialami bangsa ini. Semoga kita bisa menuntaskan tahapan-tahapan penyelesaian konflik pada anak-anak kita sehingga kelak mereka bukan tumbuh menjadi generasi-geberasi penghujat.
Persoalan selanjutnya adalah banyaknya kejahatan yang terjadi pada masa ini. Kemana moral bangsa yangn selalu diagung-agungkan dulu.


Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...