Jumat, 15 Maret 2013

Ada Apa Dengan Bangsa Negeri Ini?




Akhir-akhir ini alangkah penuhnya media sosial yang semestinya dapat kita gunakan untuk hal-hal positif berubah menjadi ajang hujat menghujat. Demikian mudah orang berkata-kata kasar melalui tulisan yang mereka tulis. Adakah ini orang Indonesia, yang dulu ketika saya masih kecil dikenalkan oleh Bapak/Ibu Guru sekolah dikatakan sebagai negeri yang orang-orangnya santun, saling menghormati, saling tolong menolong, rukun dan gotong royong. Seperti yang terkandung dalam nilai-nilai P4 yang harus dihafal butir-butirnya di sekolah. Tapi kenapa yang saya temui saat ini bukan seperti yang tergambar ketika saya masih kecil? Adakah yang sudah berubah?
Ataukah kini sudah terjadi pergantian generasi? Generasi yang dulu dikatakan santun itu telah renta dan telah tergantikan oleh anak cucunya atau apakah yang sebenarnya sedang terjadi?
Di berbagai tayangan, hampir tiap detik kita saksikan kejahatan demi kejahatan telah terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang notabenenya anak negeri ini? Mulai perampokan, pemerkosaan oleh orang-orang terdekat bahkan dalam hubungan kandung (Na'udzubillah), pembunuhan, bentrokan antar masyarakat (disertai kekerasan dan anarkhi), bentrokan antar instansi, bahkan dalam tingkat birokrasi para pengemban pemerintahan dengan tanpa malu dan takut mengkorup harta negara, para hakim memberikan putusan-putusan "konyol" yang tentunya sangat jauh dari kata 'keadilan'.
Inikah generasi yang mengaku lebih maju peradabannya, lebih mengenal teknologi dan dimanjakan dengan segala kemudahan teknologi, hingga moral tak lagi dipedulikan. Inikah sebenarnya generasi masa depan yang sebenarnya kita cita-citakan? 
Tentu kita akan menyangkal bahwa ini adalah generasi harapan. Jadi apa yang sebenarnya sedang terjadi? Orang yang dengan mudah mengeluarkan kata-kata kasar pada saudaranya, banyak yang merasa dirinya paling hebat sehingga berhak menghujat orang lain, orang yang merasa dirinya paling benar sehingga seolah setiap kata-katanya adalah hujjah yang tidak bisa dipatahkan. 
Dari sisi komunikasi ada yang bisa saya tangkap tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini, ketika suatu waktu tanpa sengaja saya temukan kosa kata dari sebuah artikel yang membahas tentang Verbal Aggression oleh Erwyn Kurniawan. Disitulah ada yang saya peroleh, bahwa ada 4 macam cara penyelesaian konflik. Menurut materi "Membangun Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak" dalam Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini yang disampaikan oleh pakar dan praktisi pendidikan anak dari Florida, AS: Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D.Disana dikatakan bahwa ada 4 tahapan dalam penyelesaian konflik :
  • PertamaPasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.
  • Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul. 
  • Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!” 
  • Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bercermin dari empat tahapan di atas, jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini seperti mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat kita masih berada pada tahap ketiga yaitu verbal aggression. Kebanyakan anggota bangsa ini masih senang menyerang orang dengan kata-kata hinaan yang kasar. Bisa jadi ini terjadi karena tahapan verbal aggression tersebut tak dilalui dengan tuntas saat masih anak-anak. Mungkin itulah masalah komunikasi yang sedang dialami bangsa ini. Semoga kita bisa menuntaskan tahapan-tahapan penyelesaian konflik pada anak-anak kita sehingga kelak mereka bukan tumbuh menjadi generasi-geberasi penghujat.
Persoalan selanjutnya adalah banyaknya kejahatan yang terjadi pada masa ini. Kemana moral bangsa yangn selalu diagung-agungkan dulu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...