Suatu hari ada seseorang datang kepada Hasan Al Basri. Lelaki itu mengadukan kepadanya tentang musim kemarau yang panjang serta hari-hari yang kering dan gersang. Maka Hasan Al Basri berkata kepadanya, "Beristighfarlah"
Tak lama kemudian datang lagi orang lain yang mengeluhkan soal kesulitan hidup dan kemiskinan. Maka Hasan Al Basri menasehati orang itu, " Beristighfarlah."
Beberapa saat kemudian datang lagi seseorang. Kali ini orang itu mengadukan soal sulitnya keturunan ia dapatkan. Hasan AL Basri kembali mensehati orang itu, " Beristighfarlah."
Orang yang menyaksikan tentulah heran dengan jawaban Hasan Al Basri. Ketiga masalah yang berbeda hanya di jawab dengan satu jawaban, " Beristighfarlah"
Maka Hasan Al Basri mengobati keheranan mereka dengan ajaran keimanan dengan tuntunan Al Qur'an dan petunjuk kenabian. " Lihatlah apa yang difirmankan Allah, kemudian beliau membacakan ayat yang artinya : "Maka katakan kepada mereka, 'Beristighfarlah' (mohon ampunlah kepada Rabbmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) sungai-sungai." (QS. Nuh:10-12)
Karenanya kunci dari kekeringan hidup ini adalah Istighfar. Inilah sebab-sebab yang menjadikan kita mustahil hidup tanpa Istighfar :
- Karena Allah SWT sayang dan cinta kepada kita. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra : " Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya melebihi kesenangan seorang yang menemukan kembali tiba-tiba untanya yang telah hilang daripadanya di tengah hutan." (HR.Bukhari-Muslim)
- Karena dosa kita yang selalu bertambah.
- Karena dosa yang tidak kita rasakan lebih banyak dari yang kita rasakan.
- Karena jiwa kita menjadi lelah terbebani dosa. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan " Salah satu sebab paling besar dari kesempitan hati adalah menjauh dari Allah dan lalai dari berdzikir kepada Allah."
- Karena kita dililit banyak masalah dalam hidup ini.
- Karena kita banyak banyak kebutuhan dan kita pasti faqir kepada Allah SWT.
Malam itu rangkaian peristiwa menggetarkan hati sang Imam. Sepanjang malam sepanjang si pembuat roti itu membuat adonan roti tak henti-hentinya dia beristighfar. Esoknya Imam ahmad bertanya, "Apakah engkau dapatkan manfaat dari istighfarmu?" Si pembuat roti menjawab : " Ya, hampir semua doa saya dikabulkan oleh Allah kecuali satu saja yang belum terkabu." " Apa itu?" tanya Imam Ahmad.
Tahukah kita doa yang belum terkabul itu?.. Sang pembuat roti mengatakan, " Aku ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal.." Sang Imam pun terkejut dan mengatakan, " Akulah Imam Ahmad bin Hambal. Demi Allah, aku sungguh didorong-dorong (oleh penjaga masjid) untuk bertemu denganmu..."
Adakah kita punya keinginan untuk disampaikan kepada Allah? Sesungguhnya Istighfarlah kuncinya.
adobt : dirosat tarbawi 159/2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar