ENDE, FLORES IS PARADISE
Akhirnya terjawab sudah episode kehidupan kami berikutnya. Ketika beberapa bulan lalu kami masih membaca teka-teki yang tak pernah bisa ditebak, maka kini kami mulai menapakinya. ENDE, begitulah kota kecil yang harus kami tinggali setelah MANNA. Mungkin nama-nama ini menjadi indah dalam benak kami seperti indahnya lukisan perjalanan hidup kami dalam kanvas Lauhul Mahfuz-Nya.
Allah selalu saja Adil, melebihi prasangka hambaNya. Kami tidak akan pernah menyesali karena pilihan hidup ini sudah kami tentukan di awal. Kami memilih mengambil pekerjaan ini dan resiko mutasi ini pun sudah menjadi konsekuensi logis yang harus kami jalani.
Menjadikan setiap keluh kesah atas setiap taqdir yang terjadi atas kita tentu bukan sesuatu bijaksana. Karena dengannya rasa syukur akan meluntur. Maka, hanya kesyukuran dan mengisi setiap kekurangan yang ada dengan semua kreatifitas yang Allah berikanlah yang menjadikan hidup kita menjadi penuh manfaat. Potensi yang Allah berikan demikian besar, jadi tidak ada alasan untuk merisaukan setiap ketentuanNya yang terjadi atas kita.
ENDE, lekat dengan FLORES IS PARADISE. Kata ini tak berlebihan memang, untuk ukuran syurga dunia, maka Flores adalah tempatnya. Begitu tiba dan belum sempat menginjakkan kaki, mulut ini sudah tak luput dari kata kekaguman. Subhanallah. Ketika mata ini memandang dari balik jendela pesawat, yang terlihat disana adalah pulau dengan bukit-bukit dan lekukan-lekukannya. Kontur perbukitan dipinggiran pantai bak lukisan Maha Dahsyat yang baru saya saksikan. Pesawat ketika itu perlahan-lahan menurun dari ketinggian, menurut informasi dari awak kabin diketahui bahwa pesawat hampir mendarat. Tapi kenapa dibawah ini laut ya? MasyaAllah, beri kami keselamatan, sekelumit doa saya panjatkan dengan sedikit debaran halus didada. Dan akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Landasan pacu yang memang berada di bibir pantai. Ini adalah pengalaman pertama karena saya bukan Traveller.
Bandar Udara H. Aroeboesman, adalah bandar udara yang mungil terletak di dekat kota di tepi pantai. Dengan pesawat Trans Nusa yang selama ini hanya saya tahu ada di iklan-iklan penerbangan akhirnya hari itu saya berkesempatan menaikinya. Emm.. inilah ENDE.
Tanpa berhitung menit, mobil yang membawa kami sudah sampai di depan sebuah rumah dinas yang sederhana dengan rumput meninggi disana-sini. Alhamdulillah, semoga kami kerasan.
Hari berganti hari, kami pun sedikit demi sedikit mulai menengok sudut-sudut kota ini. Ehm, masih kota kecil tapi terbilang lebih besar dari kota sebelumnya. Pusat pertokoan lebih banyak dijumpai di kota ini. Perkotaan dengan nuansa kontur perbukitan menjadi daya tarik tersendiri. Subhanallah. Pemandangan yang tidak bisa menafikan jargon Flores is Paradise, dimana dari jalan kota kita bisa melihat laut biru terbentang di bawah sana. Kalau anak saya akan dengan polos bertanya, " Ibu, kenapa airnya tidak meluap ya?" Bagus ya, pemandangan di Ende, Bu? Tentu saya akan mengiyakannya. Alhamdulillah.
Kota ini di huni oleh mayoritas nasrani. Tapi muslim pun masih terhitung ada terlebih di pinggiran pantai, orang muslim banyak tinggal di sana. Adzan masih terdengar di kota ini. Dan masjid pun masih mudah di temui baik di tengah kota maupun di pinggiran kota. Sementara penduduk pedesaan umumnya menganut Nasrani. Nuansa kehidupan nasrani sangat kental mewarnai kota ini, mungkin hampir mirip dengan Hindu di Bali. Menjadi hal lumrah ketika pada hari-hari besar nasrani Gubernur meliburkan kantor dan sekolah di Nusa Tenggara Timur termasuk juga Ende.
Seperti juga di Bengkulu, di Ende kami juga menemukan situs milik Presiden Pertama RI. Rupanya Bung Karno sempat diasingkan di kota ini. Bahkan di Ende ada sebuah taman yang menurut cerita orang di sini merupakan taman perenungan Bung Karno hingga lahirlah ide Pancasila.
Bandar Udara H. Aroeboesman, adalah bandar udara yang mungil terletak di dekat kota di tepi pantai. Dengan pesawat Trans Nusa yang selama ini hanya saya tahu ada di iklan-iklan penerbangan akhirnya hari itu saya berkesempatan menaikinya. Emm.. inilah ENDE.
Tanpa berhitung menit, mobil yang membawa kami sudah sampai di depan sebuah rumah dinas yang sederhana dengan rumput meninggi disana-sini. Alhamdulillah, semoga kami kerasan.
Hari berganti hari, kami pun sedikit demi sedikit mulai menengok sudut-sudut kota ini. Ehm, masih kota kecil tapi terbilang lebih besar dari kota sebelumnya. Pusat pertokoan lebih banyak dijumpai di kota ini. Perkotaan dengan nuansa kontur perbukitan menjadi daya tarik tersendiri. Subhanallah. Pemandangan yang tidak bisa menafikan jargon Flores is Paradise, dimana dari jalan kota kita bisa melihat laut biru terbentang di bawah sana. Kalau anak saya akan dengan polos bertanya, " Ibu, kenapa airnya tidak meluap ya?" Bagus ya, pemandangan di Ende, Bu? Tentu saya akan mengiyakannya. Alhamdulillah.
![]() |
| ujung landasan pacu pesawat |
Kota ini di huni oleh mayoritas nasrani. Tapi muslim pun masih terhitung ada terlebih di pinggiran pantai, orang muslim banyak tinggal di sana. Adzan masih terdengar di kota ini. Dan masjid pun masih mudah di temui baik di tengah kota maupun di pinggiran kota. Sementara penduduk pedesaan umumnya menganut Nasrani. Nuansa kehidupan nasrani sangat kental mewarnai kota ini, mungkin hampir mirip dengan Hindu di Bali. Menjadi hal lumrah ketika pada hari-hari besar nasrani Gubernur meliburkan kantor dan sekolah di Nusa Tenggara Timur termasuk juga Ende.
Seperti juga di Bengkulu, di Ende kami juga menemukan situs milik Presiden Pertama RI. Rupanya Bung Karno sempat diasingkan di kota ini. Bahkan di Ende ada sebuah taman yang menurut cerita orang di sini merupakan taman perenungan Bung Karno hingga lahirlah ide Pancasila.


