Selasa, 15 April 2014

ENDE, FLORES IS PARADISE


                                                              
Akhirnya terjawab sudah episode kehidupan kami berikutnya. Ketika beberapa bulan lalu kami masih membaca teka-teki yang tak pernah bisa ditebak, maka kini kami mulai menapakinya. ENDE, begitulah kota kecil yang harus kami tinggali setelah MANNA. Mungkin nama-nama ini menjadi indah dalam benak kami seperti indahnya lukisan perjalanan hidup kami dalam kanvas Lauhul Mahfuz-Nya. 
Allah selalu saja Adil, melebihi prasangka hambaNya. Kami tidak akan pernah menyesali karena pilihan hidup ini sudah kami tentukan di awal. Kami memilih mengambil pekerjaan ini dan resiko mutasi ini pun sudah menjadi konsekuensi logis yang harus kami jalani. 
Menjadikan setiap keluh kesah atas setiap taqdir yang terjadi atas kita tentu bukan sesuatu bijaksana. Karena dengannya rasa syukur akan meluntur. Maka, hanya kesyukuran dan mengisi setiap kekurangan yang ada dengan semua kreatifitas yang Allah berikanlah yang menjadikan hidup kita menjadi penuh manfaat. Potensi yang Allah berikan demikian besar, jadi tidak ada alasan untuk merisaukan setiap ketentuanNya yang terjadi atas kita.
ENDE, lekat dengan FLORES IS PARADISE. Kata ini tak berlebihan memang, untuk ukuran syurga dunia, maka Flores adalah tempatnya. Begitu tiba dan belum sempat menginjakkan kaki,  mulut ini sudah tak luput dari kata kekaguman. Subhanallah. Ketika mata ini memandang dari balik jendela pesawat, yang terlihat disana adalah pulau dengan bukit-bukit dan lekukan-lekukannya.  Kontur perbukitan dipinggiran pantai bak lukisan Maha Dahsyat yang baru saya saksikan. Pesawat ketika itu perlahan-lahan menurun dari ketinggian, menurut informasi dari awak kabin diketahui bahwa pesawat hampir mendarat. Tapi kenapa dibawah ini laut ya? MasyaAllah, beri kami keselamatan, sekelumit doa saya panjatkan dengan sedikit debaran halus didada. Dan akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Landasan pacu yang memang berada di bibir pantai. Ini adalah pengalaman pertama karena saya bukan Traveller.
Bandar Udara H. Aroeboesman, adalah bandar udara yang mungil terletak di dekat kota di tepi pantai. Dengan pesawat Trans Nusa yang selama ini hanya saya tahu ada di iklan-iklan penerbangan akhirnya hari itu saya berkesempatan menaikinya.  Emm.. inilah ENDE.
Tanpa berhitung menit, mobil yang membawa kami sudah sampai di depan sebuah rumah dinas yang sederhana dengan rumput meninggi disana-sini. Alhamdulillah, semoga kami kerasan.
Hari berganti hari, kami pun sedikit demi sedikit mulai menengok sudut-sudut kota ini. Ehm, masih kota kecil tapi terbilang lebih besar dari kota sebelumnya. Pusat pertokoan lebih banyak dijumpai di kota ini. Perkotaan dengan nuansa kontur perbukitan menjadi daya tarik tersendiri. Subhanallah. Pemandangan yang tidak bisa menafikan jargon Flores is Paradise, dimana dari jalan kota kita bisa melihat laut biru terbentang di bawah sana. Kalau anak saya akan dengan polos bertanya, " Ibu, kenapa airnya tidak meluap ya?" Bagus ya, pemandangan di Ende, Bu? Tentu saya akan mengiyakannya. Alhamdulillah.

ujung landasan pacu pesawat
                                                     
Kota ini di huni oleh mayoritas nasrani. Tapi muslim pun masih terhitung ada terlebih di pinggiran pantai, orang muslim banyak tinggal di sana. Adzan masih terdengar di kota ini. Dan masjid pun masih mudah di temui baik di tengah kota maupun di pinggiran kota. Sementara penduduk pedesaan umumnya menganut Nasrani. Nuansa kehidupan nasrani sangat kental mewarnai kota ini, mungkin hampir mirip dengan Hindu di Bali. Menjadi hal lumrah ketika pada hari-hari besar nasrani Gubernur meliburkan kantor dan sekolah di Nusa Tenggara Timur termasuk juga Ende.
Seperti juga di Bengkulu, di Ende kami juga menemukan situs milik Presiden Pertama RI. Rupanya Bung Karno sempat diasingkan di kota ini. Bahkan di Ende ada sebuah taman yang menurut cerita orang di sini merupakan taman perenungan Bung Karno hingga lahirlah ide Pancasila. 

Kamis, 14 November 2013

Agar Engkau Menjadi Wanita Tercantik di Dunia


Kecantikanmu bersinar melebihi terangnya mentari. Akhlakmu semerbak melebihi harumnya kasturi. Tawadhu’mu indah melebihi cahaya purnama. Dan kasih sayangmu membawa ketenangan melebihi curahan hujan.

Peliharalah kecantikanmu dengan keimanan, keridhaan, qana’ah, iffah, dan busana muslimah.

Ketahuilah, perhiasanmu bukanlah emas, berlian dan permata. Tetapi, beberapa rakaat menjelang sahur, rasa dahaga di siang hari saat puasa, sedekah tersembunyi yang tiada seorangpun mengetahui kecuali Ialhi Rabbi. Air mata hangat yang membasuh dosa, sujud panjang di atas sajadah, serta rasa malu yang membuat niat jahat dan maksiat tercegah.

Pakailah pakaian taqwa, saudariku. Tentu engkau menjadi wanita tercantik di dunia. Walau pakaianmu tertambal, itu tak jadi soal.

Pakailah pakaian luar yang sopan, niscaya engkau menjadi wanita terindah di alam. Walau engkau tak memiliki baju yang mahal, itu tak jadi soal.

Jauhilah kehidupan wanita-wanita durjana, kafir dan penggoda. Jangan sampai engkau membuka aurat atau berbuat sesuatu yang menjadikanmu tak lagi terhormat. Sebab siapa yang menjajakan kehormatannya, maka api neraka telah menunggunya. “Tidak ada yang masuk ke dalamnya, kecuali orang yang paling celaka” (QS. Al Lail : 15)

Saudariku, di setiap relung kehidupan ada kegelapan. Tiada pilihan bagimu, kecuali menyalakan lentera dalam jiwa. Maka cahaya dari Ilahi membuatmu menjadi wanita tercantik di dunia.

[Disarikan dari As’adu imroatin fil ‘alam -Kiat Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia dan Akhirat- karya Aidh Al Qarni]

http://www.bersamadakwah.com/2013/04/agar-engkau-menjadi-wanita-tercantik-di.html

Ketika Allah Mengirim Cinta




    Written By Titin Yusuf on Selasa, 19 Maret 2013 | 17.00

Tidak harus kau!
Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang
(Sakti Wibowo : Sepasang Merpati Berkalung Safir)

Lupakan. Lupakan cinta yang tidak akan bersemi di pelaminan. Demikian, ustadz Anis Matta menulis di Serial Cinta miliknya. Sebab tidak ada cinta tanpa pernikahan. Cinta tanpa temu fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Mencintai itu menikahi. Itulah yang beliau sampaikan.


Masih ingat kisah cinta Nurul dan Fahri dalam Ayat–ayat Cinta nya Kang Abik. Atau mungkin kisah cinta antara Tiara dan Fadhil di Ketika Cinta Bertasbih lebih dikenal. Bukan hanya karena ditulis oleh novelis yang sama yakni Habiburrahman El Shirazy. Namun pesan moral yang coba penulis sampaikan pada para pembacanya. Tak selamanya ujung akhir cinta itu selalu indah. Tak jarang mimpi para pecinta harus luruh, tunduk pasrah pada kehendak takdir Yang Kuasa. Yang mungkin ceritanya bakal jauh lebih indah dari yang mereka sangka.
Sebagaimana terjadi pada banyak wanita, Nurul dan Tiara mungkin tak memilih. Namun dalam hidup selalu ada pilihan, Menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Salim A. Fillah menyebut, yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban. Dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta, beliau menggubah selarik puisi.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu… aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana… tinggi menggapai syurga

Keduanya dalam kondisi yang sama. Menunggu detik-detik menjelang akad nikah dengan lelaki yang tak mereka cintai. Keduanya berkeras bahwa tidak akan mudah atau bahkan tidak akan bisa memberikan hati yang sudah diisi dan ditempati oleh orang lain. Keduanya tunduk pasrah tanpa upaya dan menjadikan cinta sebagai penguasa hingga tanpa sadar merasa sulit menerima yang lebih indah, lebih halal dan lebih agung bagi mereka.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah mengutip judul buku yang indah dari Ukhti Izzatul Jannah, Karena Cinta harus Diupayakan. Beliau mengungkapkan bahwa Allah mengajari kita untuk mengupayakan cinta. Seperti cinta kita padaNya yang tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dengan iman. Iman datang karena hidayah. Hidayah datang karena menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada ikhtiar. Jika cinta pada yang Maha Agung adalah buah dari ikhtiar. Maka, mengapa kita tak mengupayakan cinta kita pada dia yang dihalalkan untuk kita. Dan justru lebih memilih terbelenggu oleh cinta yang tak dihalalkanNya. Astaghfirullah …..
Beliau juga menambahkan, sering ia mengatakan pada para ikhwan, “Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya, malah kalau bisa sebanyak-banyaknya. Tapi harus jadi gentle dan sportif!, Kalau ada ikhwan atau lelaki lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang angan pengisi sepi… jangan menangisi nasib diri! Persilahkan dengan gagah bahkan… bantu dengan segenap pengorbanan jika perlu!“
Begitupun pada para akhwat hal yang sama berlaku “Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang yang berbeda nama, yang baik akhlaqnya dan agamanya datang… sedangkan antum tidak memiliki alasan syar’i untuk menolak… jangan pernah sekali-kali antum menghindar…”
Pada akhirnya jika boleh dikata sebagai mana syair milik Sakti Wibowo yang dikutip diatas “Tidak harus kau… Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang .” Maka teruntuk para ukhti… tak harus dengan sebuah nama yang sudah tersimpan rapi dalam hati. Tapi amat baiklah jika memilih sebuah nama yang menghampiri anti dengan gagah berani. [Kembang Pelangi]
 sumber : www. bersamadakwah.com

Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari

Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru  kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...