"Hidup itu harus berarti. Karena dari keberartian, kelak kita akan mendapatkan bekal untuk mempertanggungjawabkan karunia ini dan merasakan keberuntungan yang menyelamatkan."
Kamis, 20 Agustus 2015
:: Apakah Anakku Harus Rangking 1? ::
Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini dan menjadi murid kelas menengah yang sesungguhnya. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Saat suamiku membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya hanya tertawa sendiri mendengarnya. Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya. Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik. Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang. Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga. Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: “Anak Anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”. Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur. Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami? Anakmu bukan milikmu. Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri, Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau, Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya, Tapi tidak untuk jiwanya, Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi. Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, Pun tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap. - Khalil Gibran (Sumber: annasahmad.wordpress.com)
Rabu, 19 Agustus 2015
Kenali Tahapan Pernikahan Kita
18 Agustus 2015 | Dibaca : 3909 Kali | Rubrik : Psikologi Keluarga
Mari Kenali Tahapan Pernikahan Kita. Berikut ini caranya…
Sahabat Ummi... Menikah dinyatakan setara dengan setengah agama, jika melihat betapa besar amanahnya, sudahkah kita gigih menimba ilmunya?
Mengetahui tahapan pernikahan kita ada dimana akan memudahkan kita mengevaluasi apa saja yang sudah kita lakukan dan apa saja yang masih harus dibenahi. Karena pernikahan yang sehat itu sifatnya tumbuh, tidak statis, maka pernikahan sehat tidak melulu identik dengan kondisi tanpa konflik, karena banyak juga pernikahan sakit terjadi justru karena tidak ada konflik, dimana masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Menurut Dawn J Lipthrott dalam buku "Wonderful Couple" yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan, ada 5 tahapan Kehidupan Pernikahan, yuk simak sebagai berikut:
1. Tahap romantic love. Ini terjadi pada pasangan yang baru menikah, dimana masing-masing sedang merasakan gelora cinta yang menggebu.
2. Tahap dissapoinment or distress. Pada tahap ini mulai terbuka banyak kekurangan kita dan pasangan sehingga banyak menimbulkan konflik, beberapa pasutri yang tidak sabar menjalani tahapan ini biasanya memilih berpisah.
3. Tahap knowledge and awareness. Setelah melewati tahapan yang penuh dengan kecewa dan stres, maka pasangan akan mulai merenung tentang diri masing-masing.
4. Tahap transformation. Setelah melewati tahap perenungan, maka akan masuk tahap pematangan hubungan, dimana masing-masing pihak berusaha membahagiakan pasangannya.
5. Tahap real love. Pada tahapan ini hubungan yang ada bercorak kesejiwaan antara suami dan istri. Pada tahap terakhir ini pasutri akan kembali merasakan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan dan kebersamaan dengan pasangan. Inilah cinta yang dewasa, cinta yang penuh makna dan kesungguhan jiwa.
Demikian Sahabat Ummi... yuk kenali tahapan pernikahan kita ada dimana, sehingga kita dapat terus menumbuhkan pernikahan yang ada, bersabarlah menjalani setiap tahapan yang ada, sehingga tahap real love akan kita genggam sepanjang masa. Aamiin.
Referensi:
-Takariawan, Cahyadi. 2015. Wonderful Couple. P.T Era Adicitra Intermedia. Solo
Foto ilustrasi: google
Profil Penulis:
Rena Puspa bernama asli Irena Puspawardani, seorang ibu beranak 3 yang kini berdomisili di Malaysia. Buku solo perdananya berjudul "Bahagia Ketika Ikhlas" terbitan Elex Media Komputindo. Penulis kini aktif menulis di Komunitas Ummi Menulis.
Rabu, 25 Februari 2015
Kasih Paling Tulus Seorang Ibu di Zaman Rasulullah - Majalah Ummi Online
Kasih Paling Tulus Seorang Ibu di Zaman Rasulullah
19 Desember 2014 | Dibaca : 3386 Kali | Rubrik : Ragam
Sampai akhir masa, kasih seorang ibu kepada anaknya adalah gambaran kasih paling tulus yang pernah ada. Demi kebahagiaan anak, apa pun dilakukan seorang ibu.
Ummu Hani atau Fakhitah binti Abi Thalib bercerai dari Hubairah bin Wahab. Suaminya berkeras tetap dalam kekafiran, sementara Ummu Hani telah memilih masuk Islam. Ummu Hani membawa keempat anaknya yang masih kecil dalam pengasuhannya.
Rasulullah saw berniat melamar sepupunya itu. Ummu Hani bimbang. Di satu sisi, adalah kebahagiaan besar bisa mendampingi Rasulullah saw. Di sisi lain, ia ingin mencurahkan seluruh perhatian kepada buah hatinya. Maka, Ummu Hani berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, engkau lebih kucintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Akan tetapi, bukankah hak suami itu sangat besar? Aku takut bila aku menerimamu sebagai suami, perhatianku kepada anak-anakku terabaikan. Sementara, bila aku mementingkan anak-anak, hakmu sebagai suami akan terabaikan.”
Begitu besar rasa keibuan Ummu Hani hingga ia lebih mementingkan anak-anaknya dibanding kebahagiaannya sendiri. Rasulullah sangat memaklumi keputusan Ummu Hani.
Sebelum menikah dengan Rasulullah, Ummul Mukminin Ummu Salamah pun merasakan ujian berat sebagai seorang ibu. Kala itu keluarganya dan keluarga suaminya menentang keras keputusan Ummu Salamah dan Abu Salamah memeluk Islam. Apalagi, saat mengetahui keduanya beserta Salamah, bayi mereka, berniat hijrah ke Madinah.
Menjelang keberangkatan, terjadi keributan dan perebutan. Ummu Salamah ditarik pulang keluarganya, anaknya dibawa keluarga suaminya. Sementara suaminya berhasil lolos ke Madinah.
Hati ibu mana yang tak hancur dipisahkan paksa dengan buah hatinya. Begitu pun Ummu Salamah. Selama hampir setahun, setiap pagi ia menangis, merindukan anak dan suaminya. Akhirnya kedua keluarga tak tega. Ummu Salamah mendapatkan kembali anaknya dan dia diperkenankan menyusul sang suami.
Pada masa tabi’in, cinta ibu kembali teruji. Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib telah mengalami peristiwa yang menimpa ayahnya dan suaminya, Umar bin Khattab ra, yang dibunuh orang di waktu subuh. Sungguh ia tak menduga, Zaid bin Umar, anaknya yang masih muda, meninggal pula karena dibunuh saat subuh.
Ummu Kultsum berusaha tegar. Namun, kesedihan begitu menguasai dirinya saat putra kesayangannya bersimbah darah. Seketika ia pun terjatuh di atas tubuh anaknya dan meninggal sekejap setelah anaknya meninggal. Begitulah, karena jiwa ibu dan anak tak terpisahkan.
Sungguh, hanya ibu dan anak yang bisa merasakan pertalian kasih ini. Allah Ar Rahim-lah yang menanamkannya pada makhluk yang Dia kasihi.
5 Sifat Istri yang Paling Disukai Suami - Majalah Ummi Online
5 Sifat Istri yang Paling Disukai Suami
24 Februari 2015 | Dibaca : 5708 Kali | Rubrik : Psikologi Keluarga

24 Februari 2015 | Dibaca : 5708 Kali | Rubrik : Psikologi Keluarga

Sahabat Ummi, apa sih yang paling disukai suami dari istrinya? Banyak yang mengira bahwa yang disukai seorang pria dari wanita adalah fisiknya, entah itu bagian-bagian tubuh tertentu, kecantikan wajah, kemolekan tubuh, tapi ternyata tidak selamanya demikian.
Berikut ini 5 hal yang biasanya disukai suami dari istrinya:
1. Percaya Diri
Sahabat Ummi yang masih merasa tidak percaya diri, wajib hati-hati! Karena ternyata suami menyukai wanita yang percaya diri, bahkan meski dengan penampilan yang bagaimana pun.
Anggaplah Sahabat Ummi menggemuk sejak melahirkan, namun jika memiliki rasa percaya diri dan tidak terus mengeluh mengenai lemak di perut, atau di tangan, maka suami justru akan menyukainya.
Istri yang tidak pede, misalnya hanya karena jerawat tumbuh, atau belum punya kendaraan pribadi, atau karena rumah masih terlalu kecil, lalu terus-menerus mengeluh, tentu hanya akan membebani suami dan tentu saja membuat suami tidak nyaman.
Maka, Sahabat Ummi yang masih belum memiliki sifat percaya diri, ayo tumbuhkanlah sifat ini, sesungguhnya percaya diri bukanlah tergantung pada penampilan fisik, atau banyaknya harta, rasa percaya diri merupakan sifat yang tumbuh dari rasa syukur dengan apa yang dimiliki.
2. Perhatian
Meski terlihat cuek, suami sebenarnya menyukai istri yang perhatian. Ada kalanya seorang istri sebenarnya cantik, tetapi ia menjadi tidak menarik karena tidak perhatian terhadap suaminya. Suami pulang kerja dalam keadaan lelah dibiarkan saja. Suami sedang menghadapi masalah, diabaikan begitu saja.
Maka, jadilah istri yang perhatian pada suami! Memperhatikan kebutuhan-kebutuhan suami, sehingga suami akan lebih mencintai kita.
3. Cerdas
Istri yang cerdas, bisa nyambung dengan pembicaraan apapun dari suaminya tentu membuat senang hati suami, karena ada tempat untuk bertukar pikiran, Oleh karena itu, para istri dianjurkan untuk memperluas wawasan setiap hari, agar menjadi istri dan ibu yang cerdas.
Kalau istri malas mengupgrade wawasan, bisa-bisa suamiakan kepincut dengan wanita lain di luar sana yang jauh lebih enak diajak ngobrol dan berbincang dengannya. Jangan sampai yaa...
4. Feminin
Istri yang bersifat feminin di rumah, biasanya lebih disukai suami. Maka, belajar bersolek, mengganti daster dengan pakaian yang lebih modis di depan suami sepertinya merupakan jurus yang dapat memikat hatinya.
Kita boleh saja menjadi tomboy di luar rumah, cuek tidak berdandan, tapi di dalam rumah, perlu sekali merawat tubuh, mempercantik wajah dan rambut.
5. Mampu Memahami Kondisi Suami
Memahami kondisi suami dan mampu berlapang dada merupakan salah satu sifat yang disukai seorang suami dari istrinya. Sayangnya, kebanyakan istri tidak demikian, selalu menuntut suami memberi lebih, melakukan lebih, hasilnya... suami merasa tak nyaman dan terbebani.
Oleh karena itu, para istri disarankan untuk bisa memahami dan mendukung suami apapun kondisinya, meski demikian, istri juga berhak menuntut segala haknya sehingga suami tidak berleha-leha mentang-mentang memiliki istri shalihah yang qonaah.
Demikianlah 5 Sifat Istri yang disukai oleh suami, Sahabat Ummi sudah siap menjadi istri idaman?
Foto ilustrasi: google
Langganan:
Komentar (Atom)
Manusia Adalah Kumpulan Hari-Hari
Manusia Adalah Kumpulan Hari-hari Seringkali kita merasakan waktu demikian cepat berlalu. Baru kemarin hari Jum'at ternyata sudah berte...
-
PENDAHULUAN Fenomena berjatuhan (seperti : penyelewangan, penyimpangan, pengunduran diri dsb) dalam perjalanan dakwah adalah gejala umum...
-
Di Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 1847, lahir seorang anak bernama panggilan Tommy Dia lahir dengan kemampuan biasa-bias...
-
5 Sifat Istri yang Paling Disukai Suami 24 Februari 2015 | Dibaca : 5708 Kali | Rubrik : Psikologi Keluarga Sahabat Ummi, apa sih yang pa...
